Daryan, I consider that my last session with you... We rocked.
Klavier Gavin, Lead Vocal of The Gavinners

 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  GalleryGallery  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Nightmares

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
Reina von Gant
Detective
Detective


Female Number of posts : 159
Age : 25
Location : Behind you....~
Reputasi : 0
Registration date : 2008-09-16

PostSubject: Nightmares   Mon Oct 06, 2008 3:55 pm

saya peringatkan... ff ini lumayan panjang sekitar 29 halaman di word. siap-siap pegel

Nightmares

Timeline : After Turnabout Goodbye and After Rise from The Ashes
Rating : hmm…, T
Warning : contains spoiler from Gyakuten Saiban 1
Summarry : Mimpi buruk Edgeworth tidak berhenti meski kasus DL-6 sudah terpecahkan

Sesak….

Aku tidak bisa menghidup udara dengan bebas. Persediaan oksigen makin menipis. Kerja otakku mulai menurun. Mataku berkunang-kunang. Kepalku pusing. Aku ingin keluar. Aku ingin cepat keluar.

“Jangan hirup udaraku!!”

Mereka bertengkar. Ayah dan orang asing itu berdebat. Ayah berusaha untuk tenang tapi tidak orang yang terjebak bersama kami itu. Dia terus berteriak frustasi. Orang itu bergumul dengan ayahku. Aku tidak boleh membiarkan ini terjadi. Aku harus menghentikan mereka.

Buk…

Ada sesuatu yang terjatuh di dekat kakiku. Aku berusaha menjamah benda itu. Aku tidak tahu apa itu. Bentuknya panjang dan terbuat dari besi. Aku tidap punya waktu untuk menerka benda apakah itu. Aku segera melempar benda itu ke arah 2 orang yang sedang berkelehi itu.

Dor…

Terdengar suara letusan pistol. Suara itu menggema dan memekakan telinga. Pikiran buruk menyusupi benakku. Apakah benda yang tadi kulempar itu sebuah pistol?

"ARGH....!!!!"

Tak lama setelah letusan pistol itu, terdengarlah suara jeritan. Jeritan yang memilukan. Seorang pria. Aku yakin sekali itu pria. Jerit kesakitan seorang pria. Sakit? Mungkinkah orang itu terkena tembakan pistol tadi?

Pusing…

Kepalaku makin terasa pusing. Pandanganku makin kabur. Kesadaranku makin menghilang. Apakah ini mimpi? Akankah aku bangun?

Cahaya…

Pintu terbuka. Cahaya dari luar segera masuk dan menelan kegelapan yang ada. Cahaya itu membutakan mataku dan membuat pandanganku makin kabur. Yang bisa kulihat hanyalah siluet seseorang memasuki ruangan itu. Seorang pria. Tapi siapa? Apakah dia penyelamat atau …,

Dor….

Bunyi tembakan kedua. Tembakan kedua? Tapi siapa yang menembak? Apa yang ditembak? Atau …., siapa yang ditembak? Pikiranku membeku. Aku bisa merasakan keringat dingin membasahi pelipisku. Pandanganku terus tertuju kepada sosok yang baru datang itu.

“Apa kau anaknya?”

Suaranya terdengar familiar. Ya, aku pernah bertemu dengan orang ini? Apakah dia kenalan ayah? Aku memperhatikan pria itu dengan penerangan yang minim. Dia memakai jas biru tua dan cravat putih. Dan di tangan kanannya …, di tangan kanannya …,

Ada pistol?!

Mataku membelalak lebar. Pistol? Pistol! Dia yang menembak! Siapa yang ditembak? Apa dia akan menembakku juga? Ayah …, aku takut. Ayah …, di mana engkau?

“Ayahmu sudah tidak ada Nak. Dia sudah mati.”

Ayahku mati? Bagaimana? Kenapa? Apakah benar sosok pria yang terbaring di lantai dengan darah mengalir dari dadanya itu memang ayah? Apakah pria ini menembaknya? Ayah…, ditembak?

“Ikut aku Miles!”

***

Miles Edgeworth terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi wajahnya membuat poninya menempel di dahinya. Nafasnya tidak beraturan. Matanya membelalak lebar. Tubuhnya berguncang hebat. Jangtungnya berdetak dengan cepat.

“Ayah…” gumam Edgeworth.

Mata kelabunya segera memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Dia berada di ruangan yang cukup luas. Terdapat lemari dan meja kerja yang terbuat dari kayu Mahogany. Dia tidak berbaring di lantai yang dingin tetapi di sebuah kasur empuk lengkap dengan selimut yang hangat. Dia tidak berada di lift kecil itu lagi. Dia berada di rumahnya, di kamarnya.

“Mimpi?” Edgeworth menyeka keringatnya.

Mimpi buruk. Dia selalu memimpikan hal itu. Dia selalu saja melihat kejadian di lift 15 tahun silam ketika dia memejamkan matanya. Mimpi itulah yang telah mengusiknya selama ini, membuatnya takut untuk tidur. Dia pikir setelah kasus DL-6 berhasil dipecahkan, saat ia tahu bahwa bukan dialah penyebab kematian ayahnya, mimpi itu akan berakhir.

Kenyataannya, mimpi itu tetap mengganggunya. Makin parah.

Biasanya dia bermimpi tentang kejadian yang menimpanya dan juga ayahnya di lift 15 tahun lalu. Dia masih bisa membayangkan suasana lift itu. Bagaimana sumpek dan panasnya di dalam sana. Bagaimana ketegangan yang terasa di antara 2 orang itu. Suara letusan pistol yang dia kira telah merengut nyawa Gregory Edgeworth. Semuanya itu terproyeksikan dengan sempurna di dalam mimpinya. Semuanya tampak seperti nyata.

Namun setelah dia tahu bahwa Manfred von Karma-lah yang telah membunuh ayahnya, mimpi itu menjadi makin buruk. Mimpinya kini ditambah dengan sosok von Karma yang berjalan memasuki lift dan menembak ayahnya, tepat di depan kedua matanya. Setelah itu dia akan berbalik dan menghadapi Edgeworth kecil. Dia selalu mengatakan kalimat yang sama dengan senyum licik yang sama pula.

“Ikut aku Miles!”

Pria itu … von Karma … dialah yang telah membunuh ayahnya. Hanya karena Gregory telah mengotori rekornya saja, dia tega mengambil seorang ayah dari putranya yang baru berusia 9 tahun. Tidak hanya itu, dia telah hancurkan cita-cita Edgeworth dan menjadikannya pengganti dirinya.

Miles Edgeworth yang awalnya ingin menjadi pengacara kini malah berakhir menjadi seorang jaksa.

Edgeworth merasa kepalanya berat sekali. Matanya pun serasa tidak mampu lagi untuk terus berjaga. Tubuhnya meronta-ronta padanya agar segera diisitarahatkan. Jam baru menunjukkan pukul 1 pagi. Dia memang harus tidur. Sudah nyaris seminggu dia tidak tidur.

Tapi Edgeworth tidak mau tidur. Dia segera bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju dapur. Dia memutuskan untuk membuat kopi dan menunggu sampai pagi hari tiba. Dia tidak bisa tidur. Dia tidak mau tidur.

Jika dia tidur, mimpi buruk itu akan datang lagi.

***

Phoenix Wright mengamati dokumen yang berserakan liar di atas mejanya sambil memakan burger yang ia beli di toko dekat kantornya. Semenjak memenangkan sidang yang lalu, nama Phoenix Wright makin tersiar. Dalam waktu seminggu saja, dia sudah mendapat tawaran untuk membela orang. Padahal dulu, dia harus menunggu berbulan-bulan baru bisa mendapatkan kasus.

Sejak dia membela Edgeworth.

Phoenix tidak lagi melihat Edgeworth setelah persidangan itu. Pria itu juga dikabarkan tidak datang ke kantor kejaksaan sejak persidangan selesai. Tidak ada kabar. Berkali-kali Phoenix mencoba untuk menelponnya tapi handphonenya dinon-aktifkan dan tidak ada yang menjawab telepon rumahnya. Sepertinya Edgeworth sedang tidak ingin diganggu.

Phoenix mengacak-acak rambutnya. Dia tidak akan heran kalau Edgeworth merasa depresi sekarang. Dia tidak tahu sesakitnya hati Edgeworth saat tahu orang yang ia anggap sebagai guru dan pengganti ayahnya adalah orang yang telah membunuh ayahnya. Dia tidak tahu seberapa berat tekanan batin yang diderita Edgeworth setiap malam saat ia memimpikan mimpi yang sama. Dia tidak tahu seberapa mengerikannya menghadapi lautan pers yang penasaran dengan masalah pribadimu.

Beberapa hari ini koran-koran dan berita di televisi dihiasi oleh skandal Edgeworth. Phoenix masih ingat saat dia harus menghalau para wartawan yang menyerbu Edgeworth saat dia keluar dari ruang sidang. Edgeworth saat itu hanya dapat tertunduk dan tidak sekali pun memandang mereka. Dia berusaha menyembunyikan wajahnya yang terlihat ketakutan. Dia tidak ingin memperlihatkan sisi lemahnya di hadapan publik. Karena itulah Phoenix berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan Edgeworth dari kejaran massa. Meski begitu, wartawan-wartawan tersebut tetap bisa mendapat berita hangat itu. Sekarang semua orang tahu tentang sisi gelap sang Demon Prosecutor.

Phoenix menghela nafas. Paling tidak sekarang semuanya sudah berakhir. Sidang sudah selesai. Pembunuh sebenarnya telah tertangkap. Von Karma telah dijebloskan ke penjara. Kasus DL-6 selesai. Edgeworth kembali menjadi jaksa. Phoenix kembali menjadi pengacara. Maya kembali ke desanya. Semuanya selesai.

Tapi sepertinya tidak bagi Edgeworth.

Tiba-tiba pintu kantornya diketuk dengan kencang. Phoenix segera meninggalkan dokumennya dan berjalan menuju pintu sambil menggerutu. Siapa yang mengganggunya di tengah-tengah jam makan siang? Phoenix membuka pintu dengan kesal dan segera mendapati sosok pria yang mengenakan mantel hijau tua.

“Oh, Detektif Gumshoe toh.” kata Phoenix.

“Oi teman, di mana Jaksa Edgeworth?” Gumshoe langsung menanyakan pertanyaan itu tanpa basa-basi terlebih dahulu.

“Apa maksudmu?” tanya Phoenix kebingungan.

“Jangan pura-pura bodoh Wright! Aku tahu kau menyembunyikannya!” tuduh Gumshoe.

Nah, ini aneh. Untuk apa Gumshoe datang untuk menuduhnya bahwa dia menyembunyikan …., apa tadi katanya?

“Mr. Edgeworth! Di mana dia?” tanya Gumshoe lagi. Suaranya terdengar tidak sabaran.

Edgeworth? Hei, memang dia itu barang yang bisa disembunyikan?

“Aku tidak menyembunyikan dia detektif. Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya setelah pengadilan seminggu lalu. Dan lagi pula, untuk apa aku menyembunyikan dia?” Phoenix merasa pernyataannya itu sudah cukup untuk mematahkan tuduhan tidak beralasan Gumshoe itu.

“Kau benar-benar tidak menyembunyikannya teman?” tanya Gumshoe lagi.

“Tentu saja!” jawab Phoenix.

“Kalau begitu, di mana dia sekarang?” pertanyaan Gumshoe itu sepertinya ditujukan untuk dirinya sendiri.

Phoenix merasa ada yang aneh pada gelagat detektif itu. Biasanya dia selalu muncul dengan ceria sambil tertawa-tawa. Terutama jika sudah menyangkut masalah jaksa yang paling dia hormati itu, Miles Edgeworth. Tumben sekali dia muncul dengan tampang awut-awutan dan panik.

“Detektif, apa yang terjadi?” tanya Phoenix.

“Dia menghilang teman,” jawab Gumshoe, “Mr. Edgeworth menghilang.”

“Menghilang?!” Phoenix benar-benar tidak bisa mempercayainya. Edgeworth menghilang? Bagaimana mungkin?! Dia bukan tipe orang yang suka menghilang begitu saja kan?

“Sudah seminggu dia tidak pergi ke kantor kejaksaan. Selama ini handphonenya dimatikan. Selain itu, telepon rumahnya tidak pernah diangkat.”

“Aku tahu itu. Apakah kau sudah mengecek ke rumahnya?” tanya Phoenix lagi.

“Tadi pagi aku pergi ke sana, atas suruhan pihak kejaksaan. Mereka mulai merasa kehilangan Edgeworth. Dia itu jaksa top yang mereka punyai, tidak mungkin mereka membiarkan dia absent tanpa kabar kan?” tambah Gumshoe sambil tertawa.

“Er.., detektif, bisakah kau tidak mengalihkan pembicaraan?”

“Aku datang ke rumahnya Sir. Mobil sport merahnya ada di garasi. Aku pikir dia ada di rumah makanya aku menekan bel. Tapi tidak ada yang menjawab. Aku lalu masuk ke dalam rumah. Tapi …,”

“Dia tidak ada.” terka Phoenix.

“Tepat sekali. Rumahnya kosong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Setelah lama mencari, yang aku menemukan ini di meja di samping tempat tidurnya.” Gumshoe merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan benda kecil berupa lencana.

“Lencana jaksa?” tebak Phoenix.

“Dia memang tidak pernah memakainya tapi dia selalu membawanya ke mana pun ia pergi,” suara Gumshoe mulai bergetar, “tapi kali ini dia pergi tanpa membawanya Sir. Pasti ada apa-apa.”

Phoenix tidak tahu harus berkata apa saat itu. Edgeworth menghilang. Dia tiba-tiba raib ditelan bumi. Tidak ada yang tahu di mana dia berada atau ke mana dia pergi. Edgeworth memang seperti itu. Dia selalu bertindak sendiri, tidak pernah mau melibatkan orang lain.

Dasar orang bodoh! Kenapa dia selalu berpikir bahwa hanya dia yang bisa menanggung bebannya?

“Aku akan ikut mencarinya.” Phoenix segera masuk ke dalam kantor dan mengambil mantelnya. Dia akan mencari orang bodoh itu dan menyeretnya pulang.

“Oh ya teman, jangan lupa bawa payung. Sepertinya mau turun hujan.” saran Gumshoe.

***

bersambung
Back to top Go down
View user profile http://reinarandwulf.multiply.com
Reina von Gant
Detective
Detective


Female Number of posts : 159
Age : 25
Location : Behind you....~
Reputasi : 0
Registration date : 2008-09-16

PostSubject: Re: Nightmares   Mon Oct 06, 2008 3:56 pm

sambungan

Edgeworth berjalan menyusuri jalanan dengan langkah terhuyung. Banyak mata yang tertuju padanya. Mungkin mereka merasa aneh melihat seorang pria muda berjalan layaknya orang stres. Edgeworth tidak peduli. Biarkan saja mereka melihatnya seperti itu. Dia memang sedang stres. Sesekali dia menghantamkan dirinya ke dinding bangunan untuk sekedar mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan. Setelah itu, dia kembali berjalan.

Setelah berjalan cukup jauh, Edgeworth akhirnya menemukan gapura melengkung yang terbuat dari batu. Dia telah sampai di tempat tujuannya. Edgeworth tidak membuang waktu dan terus berjalan melewati gapura itu. Jalan setapak yang ada di sana membawa Edgeworth pada berpuluh-puluh batu nisan putih yang berbaris rapi. Edgeworth tidak perlu mengecek batu nisan itu satu persatu. Dia sudah tahu batu nisan manakah yang harus ia kunjungi. Belok di belokan ke-12, batu nisan itu ada di urutan ke-3. Edgeworth segera sampai di batu yang dimaksud dan membaca nama yang terukir di batu nisan putih itu.

Gregory Edgeworth

“Lama tak jumpa Ayah.” kata Edgeworth.

Batu nisan itu bergeming. Dia tidak mungkin menjawab sapaan Edgeworth. Dia tidak mungkin menjawab. Gregory, ayahnya, telah meninggal. Edgeworth merasa lututnya lemas ketika memikirkan hal itu. Dia pun segera jatuh berlutut di depan makam ayahnya. Tangannya tanpa sadar menelusuri tekstur batu nisan itu. Batu itu terasa dingin di bawah tangannya yang tidak terlindungi sarung tangan.

“Ayah …, aku takut.” gumam Edgeworth.

Takut, Edgeworth merasa takut. Mimpi itu terus mengejarnya. Dia tidak lagi menghantui tidurnya. Mimpi-mimpi itu terus datang bahkan ketika dia terjaga. Mimpi itu terus membebani Edgeworth di mana pun ia berada, membuatnya sesak dan tidak bisa berpikir dengan tenang. Mimpi yang sama. Mimpi tentang kejadian naas itu.

“Semua ini salahku!” Edgeworth mulai berteriak lepas kendali, “Semua ini salahku sampai-sampai Ayah terbunuh. Kalau saja aku tidak melempar pistol itu, mungkin hal ini tidak akan terjadi! Karma tidak akan tertembak dan dia tidak akan menembakmu. Dia tidak akan membawaku ke rumahnya dan menjadikanku jaksa. Dia tidak akan mungkin merengut impianku. DIA TIDAK AKAN MUNGKIN MENGAMBIL HIDUP KITA BERDUA!!”

Entah apa yang dipikirkan Gregory jika dia melihat bagaimana putra kesayangannya itu tumbuh. Tentu saja dia merasa sedih saat tahu anaknya yang manis diambil oleh orang yang telah membunuhnya. Yang lebih ironis lagi, Manfred von Karma telah mendidik anaknya menjadi pribadi yang sama sekali berbeda dengan yang ia harapkan. Dia pasti sedih. Dia pasti kecewa. Dia pasti marah.

“Maafkan aku Ayah,” air mata mulai mengalir dari mata kelabu Edgeworth, “aku …, aku mengecewakanmu.”

15 tahun dia berada di bawah didikan von Karma. 15 tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama itu, dia telah didoktrin tentang kesempurnaan. Kesempurnaan adalah segalanya di dunia ini. Kesempurnaan adalah tujuan hidup. Kesempurnaan adalah dasar hidup. Karma terus mengajarkannya hal itu. Pria yang membunuh ayahnyalah yang telah membesarkannya di dalam kesempurnaan.

Pria yang selama ini dianggapnya sebagai sosok seorang ayah.

Hujan mulai turun dan membasahi tempat di mana dia terjatuh. Hujan yang awalnya turun rintik-rintik itu mulai menderas dan makin menderas. Edgeworth segera mendapati dirinya diguyur oleh hujan tanpa ampun. Air hujan itu menghantam tubuhnya dan merembes di pakaiannya, membuat udara yang semula dingin menjadi bertambah dingin. Edgeworth tidak peduli dengan deraan hujan dingin itu. Mungkin ini hukuman dari langit untuknya. Edgeworth menyandarkan tubuhnya yang lelah di batu nisan ayahnya sambil sesekali mengusapnya.

“Ayah …, apakah menurutmu aku pantas menjadi jaksa?”

Awalnya Edgeworth adalah seorang anak kecil yang bercita-cita menjadi seorang pengacara. Dia ingin membela mereka tidak bisa membela diri mereka sendiri. Namun sekarang dia adalah jaksa dingin tanpa belas kasihan. Demon Prosecutor. Orang yang melakukan apa saja untuk membuktikan terdakwa bersalah.

Dia tidak lagi bisa melanjutkan karirnya sebagai jaksa sekarang. Tidak setelah dia menyadari kesalahan yang telah ia perbuat di masa lalu. Dia merasa tidak pantas menjadi jaksa lagi. Dia takut dia akan menjadi orang yang melakukan apa saja untuk membuktikan orang bersalah.

“Ayah …, apa yang harus kulakukan?”

Selama ini dia berpikir bahwa tujuan hidupnya adalah meraih kesempurnaan dalam apa pun yang ia lakukan. Namun sekarang, dia sadar kesempurnaan bukanlah segalanya. Sekarang setelah orang yang ia percayai tidak ada, ke manakah dia akan melangkah selanjutnya? Tujuan hidupnya hilang. Dasar hidupnya hancur. Semangatnya redup. Dunianya perlahan terlepas dari genggamannya.

“Ayah …, untuk apa aku hidup sekarang?”

Edgeworth menengadahkan kepalanya ke langit. Air hujan segera membasahi wajahnya dan menyatu dengan air matanya. Dia memejamkan matanya, berharap air hujan itu bisa menyapu bersih kegelisahannya. Tapi kenyataannya, kegelisahannya tidak menghilang. Semuanya itu terus bercokol di hatinya dan tidak mau pergi. Mimpi-mimpi itu terus ada. Suara-suara itu terus menggema.

“Ayah …, aku tidak mau melihat mimpi itu lagi.”

Edgeworth sadar benar bahwa dia harus menghentikan mimpi buruknya itu. Dia tidak tahan lagi. Terlalu banyak kenangan buruk yang disimpannya. Terlalu banyak kesalahan yang diperbuatnya. Dia tidak kuat menjalani semuanya ini. Dia tidak mampu menghadapinya.

Dia lalu memasukkan tangannya ke saku celananya dan menarik sebuah benda keluar. Dia pandangi pisau merah marun yang selama ini tergeletak di bagasi mobilnya itu. Bilah pisau itu berkilat ditempa cahaya.

“Aku akan mengakhiri semua ini sekarang juga Ayah.”

***

Phoenix dan Gumshoe terus mencari Edgeworth. Sial! Ke mana sih orang itu?! Mereka sudah menggeledah isi rumah Edgeworth tapi tidak menemukan apa-apa yang bisa memberikan mereka petunjuk. Mereka juga sudah menggeledah kantornya tapi hasilnya nihil. Mereka mendatangi semua tempat yang biasanya didatangi Edgeworth tapi tetap saja keberadaan pria berjas merah marun itu tidak terlihat.

Apakah dia pergi ke luar kota? Sepertinya tidak. Phoenix telah memeriksa lemari Edgeworth. Sepertinya pakaiannya masih tersimpan rapi di dalam sana. Kopernya pun masih ada di samping lemari pakaian itu. Mobilnya pun masih terparkir dengan rapi di garasi. Pastilah Edgeworth pergi ke suatu tempat yang bukan untuk tinggal. Tempat yang hanya untuk dikunjungi. Tempat yang masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki (Phoenix tahu pasti kalau Edgeworth benci kendaraan umum).

Tapi di mana?!!

Pasti ada suatu tempat! Tempat yang akan dikunjungi Edgeworth. Mungkin tempat untuk menyendiri. Ya, Edgeworth pasti ingin menyendiri saat itu. Pasti ada tempat seperti itu. Tempat yang cukup dikenal oleh Edgeworth dan jarang dikunjungi orang. Tak perlu buang banyak waktu, Phoenix dapat menerka kira-kira tempat apa itu.

Pemakaman.

Edgeworth pasti ada di pemakaman ayahnya. Karena itulah, dia meminta Gumshoe untuk segera membawa mereka ke pemakaman tempat ayah Edgeworth dikuburkan. Sirine mobil patroli segera meraung dengan keras, memberi tahu semua mobil untuk menyingkir dari lajunya. Tak lama, mobil putih itu sampai di depan pemakaman umum. Phoenix dan Gumshoe segera turun dari mobil dan masuk ke dalam pemakaman itu.

Pemakaman umum itu bukan pemakaman yang kecil. Terdapat banyak nisan di sana. Mereka tidak tahu yang manakah nisan Gregory Edgeworth. Semuanya sekilas terlihat sama sehingga sulit membedakan satu sama lain.

“Well, aku rasa kita harus berpencar.” usul Gumshoe.

Terkadang detektif ini bisa pintar juga, “Baiklah!”

Maka kedua orang ini pun segera berpisah jalan. Phoenix memeriksa setiap blok. Dia berharap dapat menemukan sosok Edgeworth di antara batu-batu yang berjajar rapi itu. Tapi dia tetap tidak menemukannya.

Hujan yang baik mulai turun membasahi pemakaman. Phoenix segera mengeluarkan payungnya dan memakainya. Hujan rintik-rintik kini berubah menjadi deras. Phoenix segera melanjutkan pencariannya di bawah terpaan hujan. Semoga saja Edgeworth membawa payung. Kalau tidak dia bisa menggigil kedinginan seperti orang yang berbaring di tanah sambil bersandar pada salah satu nisan.

Tunggu! Mungkinkah itu Edgeworth?!

Phoenix mengamati orang itu dari jauh. Seorang pria muda. Dia hanya memakai kaos turtleneck berwarna hitam dan celana jeans lama. Pria itu menggigil dan gemetar karena kehujanan. Rambut kelabunya tampak menempel pada wajahnya akibat basah. Phoenix sempat ragu apakah pria yang berada di depannya ini adalah Miles Edgeworth atau bukan. Ada sesuatu yang berbeda darinya. Edgeworth selama ini selalu memancarkan aura sok berkuasa dan superior. Namun pria ini terlihat begitu rapuh, begitu hancur, begitu menderita. Dia tidak terlihat seperti Edgeworth di mata Phoenix. Phoenix meragukan bahwa pria yang di depannya ini adalah Edgeworth.

Sampai dia menyadari benda apakah yang dipegang pria itu.

Pisau!

Tidak ada waktu bagi Phoenix untuk berpikir lebih lama lagi. Dia segera melihat pria itu meletakkan pisau itu di atas pergelangan tangannya. Dia hendak bunuh diri! Dan parahnya, itu Edgeworth! Edgeworth akan bunuh diri! Hanya ada satu pikiran yang melesat di benak Phoenix saat itu. Dia harus menyelamatkan Edgeworth. Mungkin ini adalah tindakan yang bodoh. Lari menerjang seseorang yang memegang pisau bukanlah tindakan yang bijaksana. Bagaimana kalau Edgeworth nantinya malah akan melukainya? Phoenix tidak mempermasalahkan masalah itu. Dia harus menyelamatkan Edgeworth terlebih dahulu. Maka dia langsung berlari ke arah Edgeworth. Segera saja dia rebut pisau itu dan dia buang jauh-jauh benda terkutuk itu.

“Edgeworth! Apa yang kau lakukan?!” tanya Phoenix panik.

Yang ditanya diam saja. Dia terus menunduk dan berusaha menghindari tatapan Phoenix.

“Edgeworth! Jawab aku! Kenapa kau mencoba untuk bunuh diri?!” tanya Phoenix.

Edgeworth segera bangkit dari duduknya dan menghadap Phoenix. Tanpa diduga, dia langsung melayangkan pukulan telak ke rahang Phoenix. Yang dipukul segera terpelanting ke tanah. Payung yang ada di tangan Phoenix terlepas dari genggamannya. Phoenix meraba bekas pukulan Edgeworth. Dia tidak main-main saat memukulnya tadi. Dia bisa merasakan darah mengalir dari sudut bibirnya yang terluka akibat pukulan itu.

“Edgeworth! Apa-apaan kau?!” tanya Phoenix.

“Aku tidak memintamu untuk menyelamatkanku.” jawab Edgeworth datar.

”Apa maksudmu? Tentu saja aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja!” kata Phoenix.

“Membiarkanku mati?” kata-kata Phoenix itu sepertinya membangkitkan emosi pada diri Edgeworth yang labil, “Memangnya kenapa kalau aku mati?! Tidak ada yang akan merasa kehilangan jika aku mati kan?!”

“Apa maksudmu Edgeworth?! Tentu saja akan ada yang …”

“Tidak ada yang tersisa untukku.” sela Edgeworth cepat. Dia membenamkan wajahnya di balik tangannya, “Semuanya … hilang.”

“Edgeworth, dengar aku! Kau tidak kehilangan apa-apa! Kau tetap punya teman-teman yang akan menyokongmu.”

“Kau tidak mengerti.”

“Kau salah!” Phoenix mencengkram tangan Edgeworth, “jangan berpikir seperti itu!”

“KAU TIDAK MENGERTI!!” seru Edgeworth.

Dia menatap Phoenix. Matanya merah dan air matanya mengalir bebas. Badannya gemetar entah karena dinginnya udara bulan Januari atau karena emosi yang tidak dapat lagi dibendungnya. Belum pernah Phoenix melihat Edgeworth tampak seperti itu. Dia tampak begitu rapuh.

“Semuanya! Semuanya yang kupunya hilang Wright!” seru Edgeworth. Suaranya yang lantang terdengar bergetar. “Duniaku hilang bersama dengan Von Karma.”

“Von Karma bukan orang yang bisa kau percaya! Dia telah menghancurkan hidupmu selama 15 tahun ini! Dia sudah tidak ada sekarang. Bukankah kau seharusnya senang?” tanya Phoenix.

“Tapi selama 15 tahun itu dia adalah ayahku Wright! Dia adalah panutanku! Dialah yang mengajariku cara menghadapi dunia ini. Dia menurunkan segala ilmunya padaku. Selama 15 tahun ini, aku selalu memujanya.”

“Edgeworth … kau …” Phoenix tidak tahu harus berkata apa.

“Sekarang dia pergi. Ya, aku bebas sekarang! Ya, aku tidak lagi dihantui oleh dugaan bahwa aku yang membunuh ayahku. Tapi apa kau pikir semuanya selesai begitu saja?! Tidak! TIDAK! Perasaan bersalah di hatiku makin bertambah besar Wright! Aku merasa kesal pada diriku sendiri yang telah dibutakan oleh rasa dendam. Aku merasa malu karena telah dibesarkan oleh orang yang membunuh ayahku! Aku merasa dikhianati! Aku merasa tidak berguna. Tahu apa yang lebih parah Wright? Selama ini Von Karma adalah pusat hidupku! Saat dia pergi, dia membawa hidupku juga. Semuanya Wright! Kepercayaanku! Ambisiku! Dasar hidupku! Harga diriku! Semangatku! TUJUAN HIDUPKU!!”

Nafas Edgeworth tidak beraturan. Pengakuannya tadi telah menyita sebagian tenaganya. Dia kini menatap Phoenix. Phoenix tidak bisa menemukan tatapan mengejek dan merendahkan yang biasa dilontarkan oleh mata kelabu itu. Mata itu terlihat penuh kepedihan yang mendalam. Hanya melihatnya saja sudah membuat hati Phoenix merasa sakit.

“Untuk apa aku hidup sekarang? Aku hanya akan hidup dalam rasa bersalah dan menanggung rasa malu. Tidak ada yang tersisa untukku.” isak Edgeworth.

“Edgeworth,” Phoenix menggenggam kedua tangan Edgeworth dan memberikan lencana jaksa padanya, “kau masih bisa menebus semuanya. Kau masih bisa memperbaiki semua kesalahanmu. Kau masih bisa menjadi seorang jaksa yang baik.”

“Aku tidak lagi mau menjadi jaksa!” Edgeworth menampik tangan Phoenix. Dial lalu melempar lencana jaksanya.

“Edgeworth!!”

“Aku tidak pantas … aku tidak bisa … aku …” nafasnya makin tersengal-sengal.

“Edgeworth, kau tidak apa-apa?” Phoenix menyadari ada yang aneh pada diri Edgeworth.

Tiba-tiba saja Edgeworth roboh. Phoenix cepat-cepat menghampirinya. Wajah Edgeworth tampak pucat sekali. Nafasnya makin tidak teratur. Phoenix segera meraba kening Edgeworth. Tubuhnya panas. Sepertinya terlalu lama berada di udara dingin tanpa perlindungan dan stress berkepanjangan telah membuat Edgeworth jatuh sakit.

“Edgeworth! Oh Tuhan! Bertahanlah! Aku akan memanggil bantuan!” seru Phoenix.

“Mimpi …” gumam Edgeworth lemah.

“Mimpi?”

“Aku tidak mau melihat mimpi lagi.”

Setelah itu Edgeworth tidak sadarkan diri.

to be continued again
Back to top Go down
View user profile http://reinarandwulf.multiply.com
Reina von Gant
Detective
Detective


Female Number of posts : 159
Age : 25
Location : Behind you....~
Reputasi : 0
Registration date : 2008-09-16

PostSubject: Re: Nightmares   Mon Oct 06, 2008 3:58 pm

Gelap. Di mana ini? Ke mana pun aku melihat hanya kegepalanlah yang menyambutku. Aku merasa takut. Aku mencoba berlari tapi aku tidak menemukan ujung kegelapan ini. Di mana aku? Apa ada orang di sini? Aku takut berada di tempat gelap seperti ini sendirian.

Dor …

Suara letusan pistol. Aku menoleh ke arah asal suara itu. Aku tidak tahu pasti dari mana suara itu berasal. Semuanya gelap. Aku makin merasa takut. Apa ada penjahat di sini? Aku mulai berjalan menjauhi asal suara itu secara perlahan. Tiba-tiba kaki menabrak sesuatu yang berada di lantai. Aku segera terjatuh. Sial! Benda apa itu? Akhirnya mataku mulai terbiasa dengan kegelapan. Aku bisa melihat lebih jelas sekarang. Aku pun segera berjongkok dan memeriksa benda itu.

Aku sangat kaget saat mengetahui benda yang membuatku jatuh itu adalah seorang manusia. Seorang pria. Pria itu tidur menelungkup di atas lantai yang dingin. Aku mengguncangkan tubuh pria itu untuk membangunkannya. Pria itu tidak bergerak. Aku mengguncangkan badannya lebih kencang lagi sambil sesekali berteriak. Tapi pria itu tidak bergerak. Aku akhirnya membalikkan tubuhnya. Alangkah kagetnya diriku saat melihat noda merah di kemeja putihnya. Darah. Apakah pria ini tertembak? Aku mencoba melihat wajahnya.

Oh tidak!

Itu …

Ayah?

“Kau membunuh ayahmu.”

Aku berbalik. Di depanku berdiri seorang pemuda yang mengenakan jas yang hampir sama modelnya dengan jas Von Karma. Dia tersenyum picik padaku. Aku merasa pusing. Siapa pun akan merasakan hal yang sama sepertiku. Dia diriku sendiri.

“Kau membunuh ayahmu.”

“Tidak! Bukan aku yang membunuh ayah!” sangkalku.

“Kalau begitu apa yang kau pegang itu?” tanya diriku yang lebih muda itu.

Aku melihat ke arah yang dimaksudnya. Entah sejak kapan ada pistol di tanganku. Pistol itu aku kenali sebagai pistol yang telah merengut nyawa ayahku 15 tahun silam. Cepat-cepat aku melempar pistol itu jauh-jauh.

“Jangan membantah lagi. Kau bertanggung jawab dalam pembunuhan ayahmu.” desaknya.

“Tidak! Pergi! Aku tidak membunuh ayahku!!” aku mati-matian menyangkalnya.

“Apa kau pikir ayahmu bangga melihatmu sekarang Miles?” diriku yang lebih muda itu berjalan ke arahku. Dia kembali memasang senyun piciknya itu, “Apakah dia terima melihat anaknya menjadi seperti ini?”

“Tidak … tidak!! Von Karma yang melakukannya!” aku merasakan lututku lemas. Tak lama kemudian aku pun segera jatuh berlutut. Aku membenamkan wajahku di balik kedua tanganku. “Aku tidak melakukannya.”

“Kau salah Miles …” kali ini yang terdengar bukan suara diriku yang lebih muda. Kali ini yang terdengar adalah suara pria yang jauh lebih tua dariku. Suara yang sangat familiar. Itu suara Von Karma.

Aku segera menatap sosok diriku itu. Dia memasang kembali senyuman penuh kelicikan itu. Dia menunjukku lurus-lurus.

“Kau milikku Miles!!” serunya dengan suara Von Karma.

Tiba-tiba aku melihat bayangan seorang pria berdiri di sampingnya. Makin lama bayangan itu makin terlihat jelas. Aku sangat kaget saat tahu itu adalah bayangan Von Karma. Dia memakai baju yang sama dengan diriku yang lebih muda itu. Senyumannya, bahkan gayanya, semuanya sama. Aku merasa gemetar. Aku makin merasa takut.

Apa maksudnya ini?

“KAU SEORANG VON KARMA!!” seru Von Karma sambil menunjukku.

***

Akhirnya Phoenix bisa beristirahat juga. Sejak tadi dia sibuk mengurusi Edgeworth. Setelah jaksa itu pingsan, Phoenix langsung membawanya ke rumah Edgeworth. Gumshoe memanggil dokter sementara dia menunggui Edgeworth. Pria itu tidak berhentinya mengigau dan berteriak. Tubuhnya basah karena keringat. Phoenix pelan-pelan mengganti bajunya dan menyeka keringat Edgeworth. Dia juga tetap menunggu di samping tempat tidur sambil menggenggam tangan Edgeworth.

Akhirnya dokter datang. Sang dokter langsung memeriksa Edgeworth. Tidak ada penyakit yang serius. Edgeworth hanya terlalu lelah dan stress. Jika dia bisa beristirahat dengan tenang, dia bisa cepat sembuh. Setelah itu dokter dan Gumshoe pergi (Gumshoe masih ada kerjaan) dan tinggallah Phoenix sendiri. Setelah merasa Edgeworth sudah tenang, dia pun memutuskan untuk tidur sebentar di sofa ruang tamu. Sampai …,

“TIDAK!!!”

Phoenix yang baru saja tertidur di sofa dikejutkan oleh sebuah jeritan kerasa dari arah kamar tidur. Phoenix segera menghampiri memasuki kamar tersebut untuk mengecek keadaan Edgeworth. Dia segera mendapati Edgeworth terbangun dengan mata membelalak lebar dan berkeringat dingin. Dia lalu menghampiri pria itu dan membelai punggungnya.

“Ada apa Edgeworth?” tanya Phoenix.

“Aku membunuh ayahku …,” gumam Edgeworth dengan tatapan hampa.

“Apa? Apa maksudmu? Kau tidak membunuh ayahmu.” kata Phoenix.

“Aku membunuh ayahku,” air mata mulai membendung mata kelabu Edgeworth, “aku turut bertanggung jawab atas kematiannya. Kalau saja aku tidak melempar pistol itu …, kalau saja Von Karma tidak tertembak …, mungkin sekarang ayah masih hidup.”

“Edgeworth! Ini bukan salahmu! Kau tidak membunuh ayahmu!” kata Phoenix sambil mengguncangkan bahu Edgeworth.

“Aku mengecewakannya. Aku menjadi sama seperti Von Karma. Aku anak yang tidak baik. Aku mengecewakan ayahku.” air mata mulai mengalir dan membasahi pipi Edgeworth.

“Edgeworth,” Phoenix langsung merangkul tubuh Edgeworth yang gemetar dengan erat, “lupakan semua itu. Ini bukan salahmu.”

“Tidak. Ini salahku. Semua salahku. Aku patut disalahkan.” kata Edgeworth.

“Tidak Edgeworth. Kau tidak mengerti,” Phoenix makin memperat rangkulannya, “ini bukan salahmu. Tidak ada yang menyalahkanmu. Von Karma yang salah. Dia hanya memperalatmu Edgeworth. Kau tidak salah. Jangan menyalahkan dirimu! Apa kau pikir ayahmu senang melihatmu seperti ini Edgeworth?”

“Tapi …,”

“Dengar! Setahuku Miles Edgeworth yang kukenal dulu adalah anak yang kuat dan berhati mulia. Dia sangat memegang perkataan ayahnya lebih dari apapun. Apa kau pikir ayahmu bangga melihatmu seperti ini sekarang? Apakah dia membesarkanmu menjadi seseorang yang gampang jatuh seperti ini? Apakah dia mendidikmu menjadi pribadi yang lemah?”

Edgeworth tidak menjawab.

“Miles …, ini bukan salahmu,” kata Phoenix, “maafkan dirimu. Hadapi semua ini!!”

Tiba-tiba dia merasa badan Edgeworth tidak gemetar lagi. Dia malah merasakan tangan Edgeworth merangkul balik Phoenix. Edgeworth membenamkan wajahnya di bahu Phoenix, membuat kemejanya basah oleh air mata. Phoenix kaget sekali. Dia tidak tahu harus berbuat apa.

“Terimakasih …,” gumam Edgeworth. “Aku tidak akan kabur lagi.” tambahnya.

***

Angin musim dingin berhembus tanpa ampun dan memaksa Edgeworth untuk merapatkan mantelnya. Dia pandangi batu nisan putih, seputih butiran salju yang menyelimuti tanah. Dia pandangi nisan itu.

“Aku sudah tidak melihat mimpi itu lagi Ayah.” kata Edgeworth pada batu nisan itu seolah-olah dia sedang berbicara dengan ayahnya sendiri.

Itu memang benar. Mimpi buruk itu telah berakhir. Dia tidak lagi memimpikan saat di mana dia kehilangan ayahnya. Dia juga sudah tidak melihat sosok Von Karma yang menghantuinya. Sudah lama sekali dia tidak tertidur tanpa melihat mimpi. Rasanya damai sekali. Baru kali ini dia benar-benar bisa tidur.

Mimpi itu telah selesai.

“Wright memang benar Yah,” kata Edgeworth lagi, “kau tidak mendidikku menjadi anak yang lemah. Kau pasti mengharapkanku bisa menangani masalah ini. Aku terlalu buta dan bodoh sehingga aku tidak bisa membedakan mana kesalahanku dan mana yang bukan. Aku tahu sekarang.

“Tapi aku tetap tidak bisa memaafkan diriku sendiri Ayah. Mungkin aku memang tidak benar-benar memalsukan bukti namun tetap saja aku melakukan banyak cara untuk memenangkan sidang. Aku memang jahat. Aku tidak memaafkan diriku sendiri, Yah. Aku bahkan tidak tahu apa aku masih punya nyali untuk meneruskan pekerjaanku ini.”

Edgeworth memasukkan tangannya ke dalam sakunya. Dikeluarkannyalah pin bundar yang menunjukkan jabatannya sebagai jaksa. Dia tidak pernah memakainya. Tapi dia memang selalu membawanya. Pin inilah yang selalu mengingatkannya bahwa dia adalah seorang jaksa. Dulu dia sangat bangga akan pinnya ini. Namun sekarang, dia tidak tahu lagi. Apakah dia merasa marah? Ataukah malu? Mungkinkah kekecawaan? Pin ini adalah pengingat akan dosa yang telah ia lakukan selama dia menjadi jaksa.

“Kalau saja Wright tidak muncul, mungkin selamanya aku akan tetap menjadi pria brengsek, sang Demon Prosecutor.” lanjutnya.

Phoenix Wright, Edgeworth tidak akan mungkin melupakan nama itu. Dia adalah anak kecil yang dituduh mengambil uangnya saat mereka kelas 4 SD. Kalau dipikir-pikir, dia adalah orang pertama yang Edgeworth bela. Edgeworth memang bercita-cita menjadi pengacara. Ironis sekali setelah 15 tahun tidak bertemu, anak yang ia bela itu justru menjadi pembela dan membelanya.

“Aku tidak tahu harus berkata apa padanya Ayah. Sudah seharusnya aku mengucapkan terimakasih padanya. Namun …, aku tidak bisa melakukan hal itu. Mungkin ini karena egoku yang terlalu tinggi. Aku tidak tahu. Aku hanya …, tidak tahu harus berkata apa padanya. Ya, aku merasa beruntung bisa bertemu dengannya sehingga aku bisa menyadari semua kesalahanku. Tapi …,

“Mungkin aku takut bertemu dengannya lagi.”

Selama ini Edgeworth melihat Phoenix sebagai sosok rivalnya. Tidak ada pengacara yang bisa menyainginya seperti ini. Pria itu kerap kali membuatnya pusing di pengadilan. Namun di luar semua itu, Phoenix adalah satu-satunya orang yang Edgeworth anggap sebagai saingan yang setara dengannya.

Tapi sekarang …, Edgeworth tidak berani berdiri berdampingan dengan Phoenix. Phoenix adalah orang yang lurus dan berhati bersih. Dia selalu mencari kebenaran. Edgeworth sadar bahwa mereka berdua tidaklah sama. Selama ini yang Edgeworth cari adalah kemenangan semata. Terkadang dia menggunakan akal bulus. Tapi Phoenix tidak. Dia memenangkan kasusnya dengan cara yang bersih. Sekarang Edgeworth baru tahu betapa besarnya jurang yang memisahkan mereka berdua.

“Sampai saat ini aku masih resmi menjadi jaksa. Namun aku tidak punya semangat untuk menjadi jaksa lagi. Aku malu jika mengingat bagaimana caraku menjadi jaksa. Aku tidak tahu apakah aku cocok menjadi jaksa.

“Sebenarnya untuk apa aku menjadi jaksa?!”

Batu nisan di depannya tidak bergeming. Edgeworth ingin tertawa sendiri jadinya. Ayahnya tidak akan mungkin bisa menjawabnya.

“Apa pun itu, aku berjanji padamu, Yah, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk bertahan,” Edgeworth berbalik dan memunggungi makam ayahnya, “sampai aku menemukan arti menjadi jaksa.”

masih to be continued
Shocked
Back to top Go down
View user profile http://reinarandwulf.multiply.com
Reina von Gant
Detective
Detective


Female Number of posts : 159
Age : 25
Location : Behind you....~
Reputasi : 0
Registration date : 2008-09-16

PostSubject: Re: Nightmares   Mon Oct 06, 2008 4:02 pm

EPILOGUE!!

“Dengan ini, tersangka dinyatakan bersalah. Sidang ditutup.”

Hakim mengetuk palunya pertanda sidang telah selesai. Aku tak kuasa melepaskan pandanganku dari tersangka yang tak henti-hentinya berteriak meminta keadilan. Dia berulang kali mengatakan bahwa dia tidak bersalah. Apakah itu benar? Kalau di memang tidak bersalah, kenapa bisa ada bukti yang memberatkannya?

“Manipulasi bukti.”

Bulu kudukku berdiri. Suara itu …, aku kenal suara itu. Itu suara orang yang telah membuat diriku diliputi rumor miring. Itu suara orang yang tidak ingin aku temui lagi. Aku beranikan diriku untuk menoleh ke samping, ke arah asal suara itu.

“Apa maumu Chief Gant?” tanyaku.

Entah apa yang dilakukan Gant di sini? Bukankah dia telah dinyatakan sebagai tersangka utama kasus SL-9 dan pembunuhan detektif Goodman pada sidang yang lalu. Aku dan Wright sendiri yang telah membongkar kedoknya. Kenapa dia ada di sini? Apa maunya?

“Kalau kau mau tahu Worthy,” Gant tersenyum padaku, “tak semua bukti yang sampai di tanganmu itu benar-benar ada anak muda. Bisa jadi pembunuh yang asli yang meninggalkannya di TKP.”

“Chief … apa maksudmu?” aku tidak mengerti arah pembicaraan Gant.

“Beritahu aku Worthy, apakah kau pernah memakai bukti seperti itu untuk mendapatkan keputusan bersalahmu?” tanya Gant sambil menatapku.

Aku tidak suka tatapan Gant saat itu. Mata hijau cerahnya serasa menindasku dan membuat nyaliku teriris-iris. Memakai bukti palsu? Yah … mungkin aku pernah memakainya tanpa sadar. Tapi … aku … aku tidak sengaja kan?

Gant kini tersenyum padaku. Senyumannya sangat tidak enak dipandang mata. Lebih mirip seringaian serigala. Aku tidak tahu apa yang direncakan pria tua itu. Aku segera membereskan barang-barangku dan bergegas meninggalkan ruang sidang.

“Jangan pikir kau bisa lari dari dosamu Worthy.” kata Gant.

Aku berhenti. Apa maksudnya? Aku menoleh ke arah meja jaksa. Gant sudah tidak ada di sana. Aku mencari sosok pria berjas oranye itu di seluruh ruang sidang. Tidak ada. Aku tidak bisa menemukannya. Ke mana perginya?

“Apa yang kau cari Worthy?”

Tiba-tiba pandanganku dibutakan oleh cahaya yang amat terang dan menyilaukan. Aku menutup mataku karena cahaya itu membuat mataku sakit. Begitu aku membuka mata, aku sudah tidak berada di ruang sidang lagi. Aku memandang sekelilingku, mencoba mengenali di manakah gerangan diriku berada. Aku kenal ruangan ini. Tidak mungkin aku lupa ruang kantor ini.

Ini ruang kantor Gant.

“Selamat datang di kantorku.” suara Gant menggema ke seluruh ruangan lapang itu.

Gant ternyata telah berdiri di belakangku. Dia tampak tengah bermain dengan organ kebanggaannya itu. Aku berjalan mendekatinya. Tiba-tiba aku menyadari ada yang lain dari kantornya. Ada 2 sosok orang yang terbaring di lantai. Yang paling mencolok adalah sosok seseorang yang tertancap di tombak, sosok jaksa Neil Marshall.

Apa aku bermimpi?

“Jika ini mimpi,” Gant berhenti memainkan organnya dan menatapku, “kenapa kau memimpikan hal ini?”

Sekali lagi aku merasa tersihir oleh mata hijau Gant. Kenapa aku memimpikan hal ini? Bukankah mimpi burukku sudah lama berakhir? Lalu kenapa aku sekarang malah memimpikan kasus SL-9? Untuk apa orang ini hadir dalam mimpiku?! Sudah cukup von Karma yang mengusik mimpiku! Aku tidak membutuhkannya untuk membuat mimpiku makin buruk!

“Biar kutebak satu hal,” Gant berdiri dan berjalan ke arahku, “kau mencari pelarian bukan?”

“Pe … pelarian?” bagaimana dia bisa tahu hal itu?

“Kau merasa tidak puas dengan hasil kerjamu selama 4 tahun ini bukan? Kau menyalahkan dirimu sendiri atas kematian ayahmu. Kau menyesal telah menjadi sama dengan mentormu yang ternyata adalah orang yang membunuh ayahmu. Kau tidak terima bahwa kau memakai bukti palsu untuk menghukum para penjahat. Kau ingin mengubahnya. Kau tidak tahan hidup dengan menanggung rasa bersalah itu bukan?”

Benar. Semua yang dikatakannya memang benar. Aku memang masih menyembunyikan sakit hatiku saat aku mengetahui bahwa von Karma yang membunuh ayah. Aku merasa malu dengan caraku menjadi jaksa yang tidak pandang bulu. Aku tidak tahan menghadapi semua itu. Aku tidak tahan.

Tapi paling tidak aku sudah berusaha untuk menghapinya bukan?

“Kasus SL-9 ini adalah kasus yang mengangkat namamu sebagai sang Demon Prosecutor. Jauh di dalam lubuk hatimu, kau membenci kasus ini bukan? Kau yakin tidak memakai bukti palsu tapi semua orang tidak ada yang percaya.”

Ya, dia benar. Aku membenci kasus ini. Sangat benci. Aku tidak merasa menggunakan bukti palsu untuk memenangkan kasus ini. Tapi entah kenapa semua orang mengira aku memalsukan bukti. Aku benci kasus ini. Benci sekali.

“Sejak saat itu, kau tidak peduli apakah bukti yang kau dapat itu palsu atau tidak. Selama bukti itu bisa dipakai, kau akan memakainya dalam persidangan.”

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Tenang Nak, aku mengerti perasaanmu. Kita sama.” tambah Gant.

Aku baru sadar bahwa dia berdiri amat dekat. Terlalu dekat. Dia meletakkan kedua tangannya di bahuku. Tidak. Mata hijau itu terus memburuku. Aku tidak tahan menatapnya. Aku tidak tahan berdiri di dekatnya. Aku dorong Gant kuat-kuat.

“Aku tidak sama denganmu!” sangkalku.

“Kau membenci penjahat bukan?”

“Karena itulah aku membencimu! Kau penjahat Gant! Kau tipu orang-orang di sekitarmu! Kau palsukan bukti-bukti. Kau bunuh orang yang menghalangimu! Kau penjahat!”

“Kau sendiri?”

Pertanyaan Gant tersebut membuatku tersentak. Aku? Apa maksudnya aku sendiri adalah … penjahat? Apa maksudnya? Jangan ngomong yang tidak-tidak! Aku tidak mungkin seorang …

“Berapa orang tidak bersalah yang telah kau kirim ke penjara Worthy?” tanya Gant.

Berapa orang tidak bersalah yang telah aku kirim ke penjara? Berapa? Apa aku pernah melakukan hal seperti itu? Apa aku pernah mengirim orang tidak bersalah ke penjara? Kalau diteliti lagi, mungkin aku pernah melakukannya. Tidak mungkin selama 4 tahun aku mengadili orang yang benar-benar bersalah terus bukan? Mungkin saja ada beberapa orang tidak bersalah yang aku kirim ke penjara.

“Berapa sering kau memakai bukti palsu di pengadilan?”

Aku tidak pernah memalsukan bukti. Tapi mungkin saja ada bukti palsu yang lolos dari pengawasanku. Detektif Gumshoe memang sering tidak bisa diandalkan. Mungkin saja karena kebodohannya, aku jadi menggunakan bukti. Oh, tunggu dulu, apa ini berarti aku jadi sama bodohnya dengan Gumshoe?

“Worthy, apa kau pikir tindakanmu itu benar? Apa kau pikir, mencabut kebebasan seseorang itu bisa dimaafkan?”

Benar? Dimaafkan?

“Bayangkan sendiri Worthy, bayangkan jika kebebasanmu diambil begitu saja karena kesalahan yang tidak kau lakukan. Kau tidak bisa bertemu dengan orang yang kau kasihi. Kau tidak bisa melakukan hal yang kau sukai. Kau terkurung di penjara. Kau dipaksa melakukan pekerjaan berat. Untuk apa kau melakukan semua itu? Tidak ada bukan? Tidak ada kesalahan yang harus ditebus.

“Dengar jeritan mereka Worthy. Dengarkan jeritan orang-orang yang kau rampas kebebasannya.”

“Aku tidak bersalah!! Keluarkan aku!!”

“Tolong, siapa saja tolong aku!! Keluarkan aku dari sini!!”

“Bukan aku yang melakukannya! Orang itu yang membunuhnya! Aku tidak bersalah!! Percayalah padaku!!”

“Sialan!! Keluarkan aku dari sini! Aku tidak bersalah bodoh!! Hei, kau tidak dengar aku?!! Aku tidak bersalah!! Cepat tangkap orang lain!!”

Suara-suara itu menggema dan memekakakan telingaku. Aku menutup telingaku. Aneh sekali. Kenapa aku masih bisa mendengar suara-suara itu? Suara itu menggema di dalam telingaku, di dalam kepalaku! Suara-suara itu berasal dari kepalaku. Aku ingin suara ini berhenti! Oh Tuhan! Hentikan suara ini! Berhenti!! Berhenti kataku! Aku tidak tahan lagi!!

“Kau merampas kebebasan mereka Worthy. Beritahu aku, apa itu dapat dimaafkan?”

Oh Tuhan …! Tolong hentikan suara-suara ini.

“Dan yang terpenting,” Gant menggenggam kedua tanganku yang menutup telingaku dan membawa tanganku itu menjauh dari telingaku, “berapa banyak orang tidak berdosa yang dihukum mati gara-gara kau?”

Apa?!

“Kau benci penjahat Worthy?” tanya Gant.

Benci?

“Bencilah dirimu sendiri.” Gant tersenyum padaku.

***

“Maaf Pak, bisa lebih cepat sedikit?” tanya Phoenix pada supir yang mengendarai taxi yang dinaikinya.

“Jalannya macet Pak. Mau bagaimana lagi.” jawab supir taksi paruh baya itu.

Phoenix mengintip keadaan jalan raya. Dia memang tidak bisa mengharapkan jalanan sepi pada jam-jam segini. Phoenix pun memutuskan untuk turun saja. Dia membayar tarif taxi dan berlari menuju kantor kejaksaan. Begitu tiba di sana, dia langsung menaiki lift dan menekan tombol 12. Lift itu terasa berjalan amat lambat. Rasanya lama sekali sampai akhirnya pintu besi itu bergeser dan memaparkan pemadangan lantai 12 kepada Phoenix.

Phoenix segera keluar dari lift dan berlari menuju ruangan yang didominasi oleh warna marun itu. Begitu ia sampai di sana, dia mendapat banyak orang yang berdiri di depan kantor itu. Kebanyakan adalah polisi. Mereka hilir mudik di sana. Ada yang sedang menanyakan si bellboy yang tiap hari membawa teh kepada sang empunya kantor. Phoenix segera menghampiri kerumunan polisi itu dan berharap bisa masuk ke ruangan itu.

“Hei teman, kau tidak boleh masuk sembarangan!”

Phoenix berbalik dan mendapati seorang detektif paruh baya. Wajah detektif Gumshoe terlihat lebih lelah dari biasanya. Phoenix bisa mengerti. Bagaimana pun juga, Gumshoe sangat menghormati Edgeworth. Dia pasti kebingungan saat tahu jaksa itu menghilang.

“Apakah … apakah kalian sudah menemukan tubuhnya?” tanya Phoenix.

“Tidak ada Sir. Kami tidak menemukan mayat Mr.Edgeworth.” jawab Gumshoe.

“Kau sudah periksa rumahnya?”

“Kami sudah memeriksa rumahnya Mr.Wright, tidak ada apa-apa di sana. Semua pakaiannya, buku tabungannya, tanda pengenalnya, semuanya hilang. Bahkan anjingnya pun tidak ada.” jawab Gumshoe.

“Mungkin saja dia hanya pergi tanpa bilang-bilang. Dulu dia pernah menghilang seperti ini kan?”

“Kalau begitu, apa maksud surat itu Sir?”

“Surat?”

“Ya, surat ini.” Gumshoe mengeluarkan sebuah kertas dari balik kantungnya.

Phoenix menerima kertas itu. Dia kenal kertas ini. Tekstur yang lembut, ini pasti salah satu dari kertas yang ada di ruang kantor Edgeworth. Phoenix memeriksa isi surat itu. Ya, tulisan rapi ini adalah tulisan Edgeworth. Phoenix tidak mungkin salah mengenali tulisan itu. Phoenix lalu membaca isi surat itu. Ia telusuri kata demi kata yang tertulis di surat itu. Dia baca dengan seksama.

Jaksa Miles Edgeworth Memilih Mati

“Bohong!” Phoenix meremas surat itu.

“Tapi ini memang benar tulisan tangan Mr.Edgeworth Sir.” kata Gumshoe.

“Miles tidak mungkin menulis surat konyol seperti itu! Dia telah bertekad untuk tidak lari lagi!!” seru Phoenix.

“Tapi Sir …”

“Dia hanya pergi. Dia tidak mungkin…”

“Kalau begitu ke mana perginya Mr.Edgeworth?” tanya Gumshoe.

Phoenix merasa seluruh energi pada tubuhnya terkuras habis. Dia sandarkan tubuhnya ke dinding, berharap dinding itu bisa menopang berat tubuhnya. Apa yang Edgeworth pikirkan? Phoenix mengacak-acak rambutnya. Apa yang Edgeworth pikirkan?! Phoenix merasa kegusaran yang dari tadi melandanya kini digantikan oleh rasa amarah yang tak bisa dibendung lagi.

APA YANG DIPIRKAN ORANG BODOH ITU??!

Phoenix meninju tembok dengan keras dan berandai-andai tembok yang ia pukul itu adalah Edgeworth. Dasar orang bodoh!! Katanya kau tidak mau melarikan diri lagi! Katanya dia mau mencoba menghadapi hidup ini dan mencoba menebus kesalahannya! Apa yang dia pikirkan?! Dia pergi! Dia menghilang!

Dia melarikan diri lagi.

“Dia menghilang Detektif Gumshoe. Kalau dia memang ingin lari, biarkan saja dia.” Phoenix berbalik berjalan meninggalkan detektif yang kebingungan itu.

Dia pandangi kertas pesan terakhir Edgeworth. Dia muak sekali melihat pesan itu. Seenaknya saja dia pergi dan meninggalkan surat seperti ini. Baiklah! Jika kau memang ingin mati, mati saja sana! Phoenix tidak peduli mau ada di mana jaksa itu. Baginya dia sudah mati!

Phoenix meremas surat itu dan membuangnya ke lantai. Dia tidak ingin mengingat Miles Edgeworth lagi. Dia tidak ingin mengingat orang yang telah mengkhianati kepercayaannya itu.

Biar saja dia mati!

~Nightmares : The End~


bwah!! selesai juga dipost! selamat baca! semoga mata kalian gak pegel. koment dan kritik ditunggu

dan... ini bukan ff pw terpanjang gw. current project: Miles Edgeworth yang dibesarkan oleh damon gant serta masa lalu gant -> masih WIP dan keduanya sudah masuk halam ke-30 hahahaha
Back to top Go down
View user profile http://reinarandwulf.multiply.com
D. A. Taufik
Bassist of Daiben
Bassist of Daiben


Male Number of posts : 2532
Age : 22
Location : Bogor, Indonesia
Reputasi : 3
Registration date : 2008-07-05

PostSubject: Re: Nightmares   Mon Oct 06, 2008 8:20 pm

mm di pert part aja atuh?
tiap part pisahin pake spoiler
oc?

_________________
PLAY BACK sou nando mo REPEAT kurikaeshi
tadoru kioku no MOVIE, ONE MORE, START!
MONSTER, tsudou teppen wa mada hodotoku
konkyo naku himotoku detatokoshoubu
POWER minagiri tagiru ketsu
kagi wa ore ga nigiru sonna tsuneni seme no STYLE
DANGER! WATCH OUT! BREAK nashi kono STAGE jou ja mou
DON'T LOOK BACK, modorenai
Back to top Go down
View user profile http://vieralita.deviantart.com/
ageha
Delusive Attorney
Delusive Attorney


Female Number of posts : 2082
Age : 28
Location : on the skyeclive..
Reputasi : 0
Registration date : 2008-07-24

PostSubject: Re: Nightmares   Fri Oct 10, 2008 2:17 am

weks panjang amad
saya save dulu aja ntar dibaca di kosan
*aseeek ff edgey*

_________________

Tatoeba kurushii kyou da to shite mo..
Kinou no kizu wo nokoshite ite mo..
Back to top Go down
View user profile http://skyeclive.deviantart.com
D. A. Taufik
Bassist of Daiben
Bassist of Daiben


Male Number of posts : 2532
Age : 22
Location : Bogor, Indonesia
Reputasi : 3
Registration date : 2008-07-05

PostSubject: Re: Nightmares   Fri Oct 10, 2008 11:05 am

itu udah di part ya?

_________________
PLAY BACK sou nando mo REPEAT kurikaeshi
tadoru kioku no MOVIE, ONE MORE, START!
MONSTER, tsudou teppen wa mada hodotoku
konkyo naku himotoku detatokoshoubu
POWER minagiri tagiru ketsu
kagi wa ore ga nigiru sonna tsuneni seme no STYLE
DANGER! WATCH OUT! BREAK nashi kono STAGE jou ja mou
DON'T LOOK BACK, modorenai
Back to top Go down
View user profile http://vieralita.deviantart.com/
TsukishiroX
Prosecutor
Prosecutor


Male Number of posts : 1231
Age : 23
Location : High Prosecutor Office, Room No. 666
Reputasi : 2
Registration date : 2008-09-02

PostSubject: Re: Nightmares   Sun Oct 12, 2008 12:58 pm

Sudah saya bacaaaa!!!!
Siiippp!!!

Seseorang bikin dalam format komik dong!!!!
xD

Nice2!
Back to top Go down
View user profile http://tsukishirox.deviantart.com
mikumo-hime
Prosecutor
Prosecutor


Female Number of posts : 373
Age : 25
Location : ShinRa Company, 70th floor
Reputasi : 0
Registration date : 2008-09-07

PostSubject: Re: Nightmares   Tue Oct 14, 2008 1:29 am

waaaaaaaaiii....akhirnya selese baca jg! seruuuu~
Back to top Go down
View user profile http://natsumi726.deviantart.com
ageha
Delusive Attorney
Delusive Attorney


Female Number of posts : 2082
Age : 28
Location : on the skyeclive..
Reputasi : 0
Registration date : 2008-07-24

PostSubject: Re: Nightmares   Tue Oct 14, 2008 5:28 pm

wah yang ini aja panjang apalagi kalo dibikin komik Tsukiiiiii

_________________

Tatoeba kurushii kyou da to shite mo..
Kinou no kizu wo nokoshite ite mo..
Back to top Go down
View user profile http://skyeclive.deviantart.com
Reina von Gant
Detective
Detective


Female Number of posts : 159
Age : 25
Location : Behind you....~
Reputasi : 0
Registration date : 2008-09-16

PostSubject: Re: Nightmares   Tue Oct 14, 2008 7:29 pm

Dibikin komik? Paling kebelenger hehehehe

ada yang tertarik membuat komiknya?
Back to top Go down
View user profile http://reinarandwulf.multiply.com
D. A. Taufik
Bassist of Daiben
Bassist of Daiben


Male Number of posts : 2532
Age : 22
Location : Bogor, Indonesia
Reputasi : 3
Registration date : 2008-07-05

PostSubject: Re: Nightmares   Tue Oct 14, 2008 8:33 pm

saya?
*SOK BISA*

_________________
PLAY BACK sou nando mo REPEAT kurikaeshi
tadoru kioku no MOVIE, ONE MORE, START!
MONSTER, tsudou teppen wa mada hodotoku
konkyo naku himotoku detatokoshoubu
POWER minagiri tagiru ketsu
kagi wa ore ga nigiru sonna tsuneni seme no STYLE
DANGER! WATCH OUT! BREAK nashi kono STAGE jou ja mou
DON'T LOOK BACK, modorenai
Back to top Go down
View user profile http://vieralita.deviantart.com/
ageha
Delusive Attorney
Delusive Attorney


Female Number of posts : 2082
Age : 28
Location : on the skyeclive..
Reputasi : 0
Registration date : 2008-07-24

PostSubject: Re: Nightmares   Wed Oct 15, 2008 7:30 pm

boleh! tantangan diterima oleh Taufik hahahahahah

_________________

Tatoeba kurushii kyou da to shite mo..
Kinou no kizu wo nokoshite ite mo..
Back to top Go down
View user profile http://skyeclive.deviantart.com
TsukishiroX
Prosecutor
Prosecutor


Male Number of posts : 1231
Age : 23
Location : High Prosecutor Office, Room No. 666
Reputasi : 2
Registration date : 2008-09-02

PostSubject: Re: Nightmares   Wed Oct 15, 2008 9:42 pm

Soalnya kalo di komik kan asik
Twisted Evil Twisted Evil Twisted Evil
xD

Kok jadi kayak Deal Or No Deal???

@Twfk
Apa maksdunya tanda tanya dibelakang huruf saya???!!!?
Langsung aja!!!! =P

Oh y, komiknya PW kluar di US~
Kapan y di Indo... Y_____Y
Kabarnya sih ceritanya beda, yang sama char2 nya doang
Back to top Go down
View user profile http://tsukishirox.deviantart.com
Sponsored content




PostSubject: Re: Nightmares   Today at 9:26 am

Back to top Go down
 
Nightmares
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Nightmares from the Deep 3: Davy Jones
» Nessa Grimmeor [ Nightmares ]
» Scary Story (REALLY scary don't read if you are under 11)

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
The First Indonesian Phoenix Wright Forum :: Berry Big Circus :: Deauxnim's Spot-
Jump to: