Daryan, I consider that my last session with you... We rocked.
Klavier Gavin, Lead Vocal of The Gavinners

 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  GalleryGallery  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Revival [Diego/godot X Mia]

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
Reina von Gant
Detective
Detective


Female Number of posts : 159
Age : 25
Location : Behind you....~
Reputasi : 0
Registration date : 2008-09-16

PostSubject: Revival [Diego/godot X Mia]   Thu Nov 20, 2008 8:27 pm

Udah lama banget pingin gw post, tapi masalahnya belum selese. Gw post dikit-dikit dulu aja kali ya

Here, comes the first part!

I just wanted to stay with you
I just wanted to feel your breath of grace
I didn't know what to do
I couldn't say anything
When consciousness returned
Everything had been washed away by the tide of time,
even you
~Silent Jealousy by X-Japan~


Gelap

Hanya itu yang terlintas di benakku saat aku membuka mataku. Dan yang kumaksud dengan gelap bukan gelap karena mati lampu atau karena tidak ada penerangan sama sekali. Mungkin ini yang dinamakan kegelapan total. Mungkin. Aku tidak tahu. Bagaimana aku tahu kalau aku sendiri belum pernah melihatnya? Aku benar-benar tidak bisa melihat apa-apa. Semuanya benar-benar diliputi oleh kegelapan tanpa akhir. Di manapun aku berada, pastilah tempat ini tidak memiliki tata pencahayaan yang baik. Aku harus segera keluar dari sini. Ya, aku harus keluar. Ini bukan tempat yang ‘terlihat’ aman.

Hal berikutnya yang terlintas di kepalaku adalah kata ‘aneh’. Memang bukan kata yang tepat untuk medeskripsikan perasaanku sekarang. Memang tidak ada kata-kata yang benar-benar bisa menggambarkan sesuatu di dunia ini bukan? Aneh sekali aku tidak bisa menggerakkan kaki dan lenganku. Aneh sekali aku tidak bisa merasakan apa-apa saat itu. Aneh sekali kepalaku terasa pusing dan nyeri. Aneh sekali. Dunia ini memang dipenuhi keanehan. Aku telah melihat dan merasakan banyak keanehan. Tapi tidak yang seperti ini. Ada yang aneh dengan tubuhku.

Apa yang sebenarnya terjadi? Di mana aku?

“Dokter! Cepat ke sini!! Dia sudah sadar!!”

Hmm… suara siapa itu? Suara perempuankah? Suara itu terdengar asing sekali di telingaku. Tak lama aku mendengar lebih banyak suara lagi. Suara perempuan lain serta suara laki-laki. Mereka saling berbicara tentang sesuatu yang sama sekali aku tidak mengerti. Suara mereka itu bercampur menjadi satu dan menggema di telingaku. Hal itu membuatku makin pusing. Hentikan! Kalian membuatku pusing!

Siapa kalian?

“Mr.Armando, apakah kau bisa mendengarku?” tanya si suara laki-laki.

Oh, tentu saja aku bisa mendengarmu. Aku tidak tuli. Aku ingin segera menjawabnya. Tapi anehnya (sudah kukatakan ada yang aneh dengan tubuhku bukan?) aku merasa sulit untuk berbicara. Tidak ada suara yang keluar dari mulutku. Rasanya sakit sekali. Tenggorokkanku terasa kering seolah tidak ada cairan yang pernah masuk di sana. Aku jadi penasaran. Sudah berapa lama aku tidak minum kopi?

“Sepertinya keadaan dia belum pulih benar.” kata suara itu lagi.

Pulih? Apa maksudnya? Apa yang terjadi padaku?

“Mr.Armando, kami akan berusaha sekuat tenaga kami untuk menjagamu tetap sadar. Karena itulah, bertahanlah. Kau mengerti?”

Tidak. Aku tidak mengerti. Bagaimana aku bisa mengerti sesuatu yang tidak jelas seperti ini? Kegelapan tak terkira, tubuh yang tidak bisa digerakkan, tenggorokkan kering. Kau pikir aku bisa mengerti?! Di mana aku sekarang? Apa yang terjadi padaku? Siapa kalian? Mau apa denganku?

Aku tidak ingat apa yang terjadi sebelum aku bangun di tempat aneh ini. Aku tidak mengerti kenapa aku bisa sampai di sini. Ah, mungkin dia bisa memberitahukannya padaku. Anak kucing manisku itu pasti akan dengan senang hati menjelaskan apa yang terjadi padaku. Tapi di mana dia? Di mana anak kucing itu? Aku butuh dia sekarang juga. Siapa saja, tolong panggilkan dia ke sini.

Mia, di mana kau?

***
Back to top Go down
View user profile http://reinarandwulf.multiply.com
Reina von Gant
Detective
Detective


Female Number of posts : 159
Age : 25
Location : Behind you....~
Reputasi : 0
Registration date : 2008-09-16

PostSubject: Re: Revival [Diego/godot X Mia]   Thu Nov 20, 2008 8:28 pm

Tanggung, satu part lagi deh

Biro Hukum Grossberg memang bukan biro hukum terbagus di LA. Dari jauh kantor kecil yang mempunyai 3 pengacara ini terlihat kumuh. Catnya yang berwarna krem sudah mulai luntur diterpa cuaca. Ada bagian dari temboknya yang retak dan hanya para penghuni ruangan itu saja yang tahu sebabnya. Meski tampak luarnya seperti itu, kantor itu tampak nyaman dan elegan di bagian dalam.

Marvin Grossberg memandang jalan raya dari balik jendela ruang tunggu. Pria berperawakan gemuk dan gempal itu tak henti-hentinya mengintip keadaan di luar kantornya itu. Sesekali dia melihat jam tangannya. Sesekali ia berdesah pelan. Tampak jelas di mukanya kalau ada suatu perkara yang mengusik pikiran pengacara senior itu.

“Dia tidak akan tersesat.”

Grossberg mengalihkan pandangannya dari sepasang muda-mudi yang tengah lewat di depan kantornya. Dia menatap Robert Hammond, mitranya di biro hukum itu. Hammond adalah pria berparas keras. Rambut hitam bergelombangnya membingkai wajah kotaknya dengan sempurna. Dia menatap balik Grossberg dengan dingin.

“Ahem… apa katamu tadi Robert?’ tanya Grossberg sambil memilin-milin kumisnya.

“Anak baru itu. Dia tidak akan tersesat.” jawab Hammond.

“Ya, kau benar Robert,” Grossberg kembali menerawang ke arah jendela, “anak-anak muda tidak mudah tersesat. Seperti diriku sewaktu masih muda.”

Hammond mendengus kesal. Tak jarang temannya itu mengungkit-ungkit masa lalunya di sela-sela pembicaraan mereka. Hammond segera masuk ke dalam kantornya dan kembali menekuni arsip-arsip untuk sidangnya 2 hari lagi. Sementara itu, Grossberg kembali menatap keluar. Entah apa yang membuatnya betah menatap pemandangan membosankan di luar sana.

Jarum jam terus berdetak. Menit berganti menit. Sudah hampir satu jam berlalu setelah waktu yang ditentukan. Grossberg pun mulai khawatir. Apa mungkin anak baru ini benar-benar tersasar atau terkena masalah? Dia ingat menemui banyak anak muda ceroboh di masa mudanya.

“Permisi!”

Lamunan Grossberg dibuyarkan oleh kedatangan seorang wanita muda. Dia segera memalingkan kepalanya agar dapat melihat wanita itu lebih jelas lagi. Dia membetulkan posisi kacamatanya dan berdehem. Wanita itu tergolong cantik. Rambut coklatnya yang panjang digerai begitu saja. Dia mengenakan setelan coklat dan syal coklat panjang. Yang paling mencolok adalah kalung berbentuk tanda koma yang dipakainya serta ukuran dadanya yang … besar.

“Maaf Mr.Grossberg, saya terlambat. Kereta dari desa Kurain tadi terlambat datang.” ungkap wanita itu.

“Aheem… tidak apa-apa. Kau tidak tersesat Miss. Fey?” kata Grossberg sambil memilin kumisnya.

“Tidak Sir. Gedung ini mudah dicari karena mencolok Sir.” jawab Mia. Mr.Grossberg mengakat sebelah alisnya. “Maksudku, catnya sudah agak pudar jadi…” tambah Mia cepat-cepat.

“Sudahlah, Nak. Kami belum sempat memperbaiki cat luar gedung ini. Yang terpenting adalah memperbaiki suasana di dalamnya bukan? Ohohoho.” kata Grossberg.

Mia lalu diajak berkeliling. Biro hukum itu saat itu memiliki 4 pengacara termasuk Mia dan seorang sekretaris yang saat itu kebetulan sedang libur. Dia diajak untuk melihat ruang kantor Grossberg yang besar dan elegan. Mereka lalu mengintip ke dalam kantor Hammond (mereka lalu kena marah Hammond). Setelah itu Mia diajak melihat kantor terakhir. Mia langsung mencium bau kopi yang sangat kental begitu masuk ke dalam kantor itu. Kantornya lumayan luas. Terdapat 2 buah meja di sana. Lemari bukunya dipenuhi dengan buku-buku dan majalah hukum serta berkas-berkas sidang yang disusun berdasarkan alphabet. Ada sebuah dispenser di sana. Di dekat dispenser itu terdapat meja. Di atasnya terdapat alat penggiling biji kopi serta secangkir mug porselen putih. Aneh. Kenapa hanya ada satu mug di sini?

“Ini akan jadi kantormu untuk sementara Ms.Fey. Silakan pakai meja yang masih kosong itu.” kata Grossberg.

Mia mengucapkan terimakasih pada Grossberg. Ia pun segera memeriksa meja kerja barunya. Ukurannya pas untuk Mia, tidak besar serta tidak kecil. Kursinya juga nyaman. Dia lalu memandang meja yang berada di seberangnya. Meja itu terlihat sedikit berantakan. Map-map ditumpuk begitu saja. Jika diperhatikan baik-baik, Mia bisa menemukan noda kopi di salah satu map tersebut.

“Itu meja partner barumu Ms.Fey. Dia akan jadi mentormu untuk sementara waktu.” kata Grossberg.

“Mentor?” tanya Mia.

“Mentor. Kau masih muda. Aku ingat dulu aku juga berlatih di bawah seorang mentor saat aku masih biro hukum. Ah, sudah lama sekali.” Grossberg mulai menerawang ke masa lalunya.

“Boleh aku tahu seperti apa orangnya?” tanya Mia.

Tiba-tiba pintu kantor itu terbuka. Mia segera berhadapan dengan seorang pria bertubuh tinggi dengan kulit kecoklatan yang tengah menenteng kantong belanjaan. Rambutnya yang berwarna hitam itu dibiarkan berantakan. Dia memiliki paras yang tampan meski ada kesan bengal. Ia memakai 2 anting perak di telinga kirinya. Mata hitamnya segera memperhatikan Mia seperti sedang memperhatikan benda asing.

“Ahem…” deheman Grossberg memecahkan kesunyian, “akhirnya kau sampai juga.”

“Maaf Pak Tua. Aku baru membeli persediaan kopi baru. Jangan pernah biarkan kopi di toplesmu habis, itu prinsipku.” kata pria itu.

“Ini pengacara muda yang aku bicarakan. Mohon didik dia.” kata Grossberg.

Mia memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya, “Mia Fey. Senang bertemu denganmu Mr…”

Pria itu tidak segera menjabat tangan Mia. Dia malah memperhatikan Mia lebih dekat lagi. Mia merasa tidak nyaman diperhatikan seperti itu. Setelah puas memperhatikan Mia, pria itu lalu menyeringai padanya. Hal ini membuat Mia takut.

“Diego Armando,” pria itu menjabat tangannya, “senang bisa bertemu denganmu anak kucing.”

“Anak kucing?!” pipi Mia mulai bersemu merah.

“Ahem … kalau begitu aku tinggalkan kalian dulu. Biarkan orang muda menikmati masa mudanya. Ah… masa muda.” Grossberg meninggalkan 2 pengacara itu sambil mengenang masa lalunya.

Mia masih merasa tidak nyaman berada berdua saja dengan Diego. Dia memang tidak biasa dengan kaum Adam. Pasalnya Kurain adalah desa dengan mayoritas perempuan. Dia tidak tahu bagaimana caranya berhadapan dengan pria dewasa seperti Diego. Terutama dengan pria dewasa seperti Diego! Sepertinya pria yang berkesan arogan itu memiliki jalan pikiran yang sulit ditebak.

“Ada apa anak kucing? Aku tidak akan menggigitmu?” kata Diego dengan nada menggoda.

“Mr.Armando! Apa maksudmu?!” tanya Mia. Dia tidak suka diperlakukan seperti itu.

“Ha! Mulai belajar mencakar rupanya.” Diego berjalan menuju meja kopi (Mia menjuluki meja yang ada penggiling biji kopi) dan meletakkan belanjaannya. Ia lalu mengeluarkan sebuah cangkir putih dari kantongnya.

“Mr.Armando! Tolong berhenti menggodaku!” bentak Mia.

“Menggoda? Itu cuma asumsimu saja anak kucing.” Diego memasukkan biji kopi baru ke dalam toples. Setelah itu dia memasukkan beberapa ke dalam mesin penggiling dan menyalakannya.

“Pantas saja ruangan ini bau kopi.” batin Mia.

“Tenang saja. Aku tidak akan pernah menggodamu atau apa,” Diego menuangkan bubuk kopi ke dalam mug putih dan cangkir itu, “jangan menggoda anak kucing yang ketakutan, itu prinsipku.”

“Kalau begitu, apa yang yang sedang kau lakukan?” tanya Mia.

“Apakah kau tidak punya mata? Tentu saja aku sedang membuat kopi.” dia menuang air panas dari dispenser ke mug dan cangkir itu.

‘Terserah kau sajalah.” Mia berjalan ke mejanya.

“Jangan marah begitu. Santai saja.” kata Diego sambil berbalik ke arah Mia. “Aku akan mengajarimu bagaimana caranya bertahan di sarang singa, anak kucing.”

“Mr.Armando!!” Mia makin kesal.

Diego berjalan ke meja Mia sambil membawa kopi di kedua tangannya. Bau kopi itu begitu menyengat sampai-sampai Mia sedikit mual. Bau itu makin menusuk hidungnya ketika Diego berdiri tepat di depan mejanya.

“Mr.Armando, tinggalkan aku sendiri!” bentak Mia.

“Ha! Kenali partnermu sebelum maju ke medan perang. Itu prinsipku.” kata Diego sambil menyeringai pada Mia.

Mia jadi bertanya-tanya, sebenarnya orang ini punya berapa prinsip dalam hidupnya?

“Sebelum itu, mari kita nikmati secangkir keajaiban dari kopi hitam yang murni,” Diego menyodorkan mug putih itu pada Mia, “Diego Blend #102, favoritku.”

Mia memperhatikan kopi yang ada di depannya. Mungkin ini adalah kopi terhitam dan terkental yang pernah dia lihat. Asap putih tampak mengepul menandakan kalau kopi itu masih hangat. Mia makin merasa mual karena bau kopi itu sangat menyengat.

“Maaf, aku …” Mia mencoba menolak kopi itu dengan halus.

“Ini bukan untukmu, anak kucing,” Diego mengambil mug itu lagi, “kau masih terlalu kecil untuk menikmati kopi sejati.”

“Kalau begitu, kenapa kau tunjukkan padaku?” pikir Mia.

“Anak kucing harus meminum apa yang harus diminum anak kucing,” Diego menyodorkan cangkir putih, “ini racikan spesialku karena aku tidak biasa membuat yang seperti ini. Aku beri nama Diego Special Blend.”

Cangkir yang disodorkan ke depan Mia ukurannya lebih kecil dari pada mug Diego (untunglah, batin Mia). Kopi yang berada di cangkir itu pun tidak sehitam dan sekental milik Diego. Baunya pun lebih manis dari pada kopi Diego. Apa ini kopi krim? Mia memang bukan penikmat kopi, tapi saat melihat kopi itu, dia jadi ingin mencicipinya.

“Terimakasih.” kata Mia sambil mengambil kopi itu.

Mereka berdua pun menghabiskan hari pertama Mia dengan mengobrol dan meminum kopi buatan Diego.
Back to top Go down
View user profile http://reinarandwulf.multiply.com
Von Kanin
Suspect
Suspect


Female Number of posts : 70
Age : 25
Location : Behind you, plotting your downfall
Reputasi : 0
Registration date : 2008-11-17

PostSubject: Re: Revival [Diego/godot X Mia]   Thu Nov 20, 2008 9:50 pm

Yayang Gant, mengapa anda selalu bisa membuat ff panjang??

Review:
1) Gw suka pas pertama kali Godot sadar, dia keliatan sinis gitu. Sinis khas Diego, karena dia belum bener2 jadi "Godot"
2) Gw selalu suka cara lw ngegambarin masa lalu karakter. Ga semua orang bisa menerka ato membayangkan detail yang ga diceritain di dalam canon
3) Mungkin lw bosen sama yang ini... PUNCTUATION. Habis Ms. ato Mr. dikasih spasi. Terima kasih pake spasi. Trus jangan lupa si tanda koma. Koma lumayan penting karena kalo ga ada koma, bisa aja arti kalimat lw jadi berubah.

Sekian dan terima kasih

~Your Worthy(?)
Back to top Go down
View user profile
Reina von Gant
Detective
Detective


Female Number of posts : 159
Age : 25
Location : Behind you....~
Reputasi : 0
Registration date : 2008-09-16

PostSubject: Re: Revival [Diego/godot X Mia]   Thu Nov 20, 2008 9:55 pm

Worthy.. ff panjang itu asoy

Bagaimana caranya gw menyembuhkan penyakit itu, Worthy. Ajarin saya!
Back to top Go down
View user profile http://reinarandwulf.multiply.com
Von Kanin
Suspect
Suspect


Female Number of posts : 70
Age : 25
Location : Behind you, plotting your downfall
Reputasi : 0
Registration date : 2008-11-17

PostSubject: Re: Revival [Diego/godot X Mia]   Thu Nov 20, 2008 10:12 pm

Nah, itu dia! Yang tadi gw bilang tanpa koma arti bisa berubah >D

Bagaimana caranya gw menyembuhkan penyakit itu, Worthy
artinya: lw nanya ke Worthy tentang bagaimana menyembuhkan penyakit yang lw derita

Bagaimana caranya gw menyembuhkan penyakit itu Worthy?
artinya: lw nanya ke entah siapa tentang bagaimana cara lw bisa nyembuhin penyakit yang namanya "itu Worthy"

Dan inget, jangan over ngasih koma juga. Orang bisa capek bacanya.

hurr hurr emang kayaknya gw lebih cocok masuk FIB, bukan FH
Back to top Go down
View user profile
Reina von Gant
Detective
Detective


Female Number of posts : 159
Age : 25
Location : Behind you....~
Reputasi : 0
Registration date : 2008-09-16

PostSubject: Re: Revival [Diego/godot X Mia]   Sat Nov 22, 2008 1:38 pm

Lanjut... lanjut!

Aku tahu bahwa aku berada di rumah sakit. Aku bisa mendengar suara-suara alat-alat medis yang berada di sekitar. Alat-alat itu mengeluarkan suara yang aneh. Sejak aku sadar, dokter dan suster berusaha keras untuk menyembuhkanku. Entah apa yang harus mereka sembuhkan. Tapi yang jelas, kini aku merasa lebih baik. Aku sudah bisa menggerakkan tangan dan kakiku meski gerakkannya masih terbatas. Aku sudah bisa mendengar suara tanpa harus merasa pusing. Tapi aku belum bisa melihat apa-apa. Semuanya masih gelap. Aku tidak tahu kenapa. Apa mungkin aku berada di ruangan yang tidak memiliki pencahayaan? Sepertinya tidak. Jadi, kenapa bisa begini?

“Mr. Armando, bagaimana kabarmu?”

Suara itu… ah… suara Pak Dokter yang baik. Aku tidak ingat siapa namanya. Tapi aku tidak peduli. Yang aku pedulikan hanyalah informasi yang ia berikan padaku. Banyak hal yang ingin kutanyakan padanya. Tapi dia selalu berkelit dan tidak menjawabnya.

“Tidak begitu baik.” jawabku. Suaraku terdengar aneh di telingaku sendiri.

Aku mendengar dia menghembuskan nafas, “Aku akan memeriksamu dulu.”

Dokter itu sangat ramah padaku. Aku kurang mengerti apa yang sebenarnya ia maksud dengan memeriksa. Aku bukan orang medis. Dan lagi aku tidak bisa melihatnya. Yang bisa kurasakan hanyalah rasa dingin yang dirasakan kulitku saat stetoskopnya menyentuh badanku. Aku mendengar guratan pena menari-nari di atas kertas. Sepertinya dia sedang menulis perkembanganku.

Yang paling tidak kusukai dari pemeriksaan ini adalah saat aku merasakan jarinya di kelopak mataku dan memaksa mataku untuk membuka lebar-lebar. Entah apa yang ia lakukan pada mataku. Hal ini membuatku penasaran karena aku tidak bisa melihatnya. Setiap kali dia melakukan itu, dia selalu menanyakan pertanyaan yang sama kepadaku. Aku sampai hafal kata-katanya.

“Apa yang kau rasakan sekarang?” tanyanya.

“Tidak ada.” jawabku.

Dia lalu menulis lagi, “Kalau begitu aku permisi dulu.”

Aku sudah cukup lama membiarkannya pergi tanpa menjelaskan apa-apa padaku. Tapi tidak kali ini. Semua orang berhak mengetahui apa yang terjadi dalam hidupnya bukan? Aku ingin dokter itu menghargai hakku ini. Bagaimana pun, aku ingin mencari titik terang dalam kegelapan ini.

Aku segera mencengkram tangan si dokter (beruntung sekali aku langsung bisa mencengkramnya tanpa melihatnya), “Kau tidak akan pergi, Dok. Diamlah di sini dan jadilah anak baik.”

“Maaf Mr. Armando. Lepaskan tanganmu. Aku masih harus memeriksa pasien lain.” katanya.

“Ha! Dokter baik rupanya,” aku melepaskan tanganku, “aku rasa salah satu tugas dokter adalah memberitahu apa penyakit pasiennya.”

“Itu benar.”

“Jadi, ceritakan padaku apa yang terjadi padaku. Aku akan mendengarmu.”

“Tapi …”

Kesabaranku makin menipis. Tidak ada yang bisa main-main denganku seperti ini. “Ingat, Dok! Aku ini orang hukum. Bukan hal sulit bagiku untuk menemukan pasal untuk menuntutmu.” bentakku.

Dokter itu terdiam. Dia diam untuk waktu yang lama. Ia menghela nafas lagi, “Mr. Armando, apa kau ingat hal yang terjadi sebelum kau masuk ke rumah sakit ini?”

“Kau sudah bertanya hal itu sebelumnya Dok. Jawabannya tetap tidak.” jawabku.

“Mr. Armando …,” suaranya terdengar lebih serius sekarang, “kau sudah tidak sadar selama 5,”

Hari? Sepertinya bukan. Dia terdengar sangat lelah untuk orang yang sudah mengurusku selama 5 hari. Kalau begitu 5 bulan? Bulan? Apakah aku memang sudah tidak sadar selama itu?

“Tahun.” lanjutnya.

Apa?! 5 tahun?! Aku sudah tidak sadar selama 5 tahun. Aku, Diego Armando, pengacara paling brilian di Biro Hukum Grossberg, tidak sadar selama 5 tahun?! Ha! Tidak masuk akal! Bagaimana bisa?! Tidak mungkin aku bisa tumbang semudah itu. 5 tahun! 5 tahun! Bagaimana mungkin?!

“5 tahun lalu kau diracuni. Apa kau ingat sesuatu? Saat itu kau berada di cafetaria pengadilan.”

Ya, aku ingat sekarang. Samar-samar aku masih ingat kejadian itu. Aku sedang duduk menunggu seseorang di cafetaria itu. Aku meminum kopi racikanku sendiri saat itu. Orang itu lalu datang. Kami mengobrol. Aku pergi sebentar. Dan waktu aku kembali, aku segera meminum kembali kopiku. Lalu aku tidak ingat apa-apa lagi.

Ah … aku mengerti. Pantas saja kopi itu rasanya aneh.

“Polisi menduga gadis yang kau temui itu yang meracunimu Mr. Armando. Kau masih ingat dia bukan?”

“Dahlia Hawthrone.” gumamku.

Aku tidak mungkin lupa pada gadis itu. Dahlia Hawthrone. Gadis berambut merah dengan wajah seperti malaikat. Pembawaannya amat tenang dan sikapnya amat sopan. Dia selalu membawa payung untuk melindungi kulit putihnya yang sempurna itu dari kejamnya sinar mentari. Senyumannya begitu manis. Dia terlihat begitu lemah lembut, begitu tanpa dosa, sangat rapuh.

Tapi hatinya bagai iblis. Aku dan Mia tahu pasti apa yang bersemayam di balik kelemah lembutan itu. Aku sudah nyaris berhasil menyinkap tirai yang menyembunyikan kekejaman seorang Dahlia. Dia adalah saksi dalam kasus pertama Mia. Statusnya memang saksi tapi Mia berhasil mengungkap identitas Dahlia sebagai sang pembunuh sebenarnya. Namun gadis itu berhasil lolos.

Hari itu dia memintaku untuk bertemu dengannya di cafetaria pengadilan. Dia ingin berdiskusi sesuatu tentang kasus itu. Dia rupanya tahu kalau aku menyelidikinya. Kami berbicara sebentar. Dia membujukku untuk menghentikan penyelidikan dan meyakinkanku kalau dia tidak bersalah. Tapi aku tidak akan mudah ditipu seperti itu. Aku tetap meyakinkannya kalau kecurigaanku padanya tidak akan berkurang dan aku akan membawanya ke pengadilan jika bukti sudah cukup. Tiba-tiba teleponku berbunyi sehingga aku harus meninggalkannya. Mungkin di saat itulah dia memasukkan racun ke dalam kopiku.

“Racun yang dia bubuhkan di kopimu adalah racun yang sangat kuat. Kau nyaris meninggal. Kalau dia menuangkan lebih banyak beberapa mili lagi, kau pasti meninggal. Benar-benar suatu keajaiban kau bisa tetap hidup, meski dalam kondisi yang sangat kritis. Kami tidak menyangka kau akan sadar.” lanjut si dokter.

Ha! Ironis sekali! Aku berhasil ditumbangkan hanya karena beberapa tetes cairan laknat bernama racun. Hebat sekali gadis itu. Tak hanya membunuh kakaknya dan menjadikan orang lain sebagai tersangka, dia juga masih berani mencoba membunuhku. Dia mencoba membunuhku dengan minuman kesukaanku. Dia telah merusak kemurniaan kopi yang dapat membawa gairah terbesar dalam hidupku.

Dia tidak akan kumaafkan!

“Perlu kau ketahui Mr.Armando, racun itu memberi dampak buruk bagi dirimu,” lanjut dokter, “racun itu membuatmu koma selama 5 tahun. Karena itulah, syaraf motorik tubuhmu belum bisa bekerja dengan sempurna. Lalu, efek samping racun itu adalah membuat rambutmu menjadi putih. Yang terakhir, racun itu membuat … mungkin kau akan sulit menerimanya, tapi …”

“Jangan sungkan-sungkan,” selaku, “aku buta kan?”

Dokter itu terdiam. Aku yakin sekali kalau aku buta. Ini semua menjelaskan kenapa aku tidak bisa melihat apa-apa semenjak aku membuka mataku. Racun itu telah mengambil anugrah terbesar dalam hidupku, penglihatanku. Aku tidak bisa melihat indahnya dunia lagi dengan mataku ini. Yang bisa kulihat hanyalah kegelapan tanpa akhir. Gelap, hitam, seperti kopi.

“Kau akan mengikuti beberapa terapi untuk memulihkan sarafmu. Kau sudah bisa mulai jika keadaanmu sudah membaik. Kami juga akan mencari jalan untuk membuatmu bisa melihat lagi.” kata dokter. Setelah itu dia pergi.

Ah … hidup memang selalu penuh kejutan. Mungkin ini adalah kejutan paling hebat dalam hidupku. Tidak pernah kubayangkan terbangun setelah 5 tahun ‘tidur panjang’ dan mendapati semuanya telah berubah. Badanku tidak bisa digerakkan dengan leluasa. Mataku tidak bisa melihat. Hal buruk apa lagi yang bisa membuatku lebih kaget dari ini?

Mia, bagaimana kabarmu sekarang? Maafkan aku karena telah meninggalkanmu dalam waktu yang lama. Semoga selama 5 tahun ini kau bisa jadi pengacara yang baik. Kapan kau akan datang mengunjungiku Mia? Aku kesepian di sini. Aku ingin mendengar apa saja yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri.

Mia … di mana kau?

***
Back to top Go down
View user profile http://reinarandwulf.multiply.com
Reina von Gant
Detective
Detective


Female Number of posts : 159
Age : 25
Location : Behind you....~
Reputasi : 0
Registration date : 2008-09-16

PostSubject: Re: Revival [Diego/godot X Mia]   Sat Nov 22, 2008 1:40 pm

“Mr. Armando, untuk apa kau membuat kopi untukku?”

Mia memandang mentor berkulit gelapnya itu dengan pandangan bertanya. Ini sudah keempat kalinya Diego membuatkan Mia secangkir kopi krim selama dia bekerja di Biro Hukum Grossberg. Yang pertama adalah saat Mia datang ke biro hukum ini. Yang kedua adalah saat Diego memenangkan sidang. Jangan bilang kali ini juga untuk merayakan kemenangan Diego baru-baru ini.

“Kau tahu sendiri alasannya, anak kucing.” Diego meletakkan cangkir kopi di atas meja Mia.

“Ngomong-ngomong selamat atas keberhasilanmu Mr. Armando.” kata Mia.

“Tidak usah repot-repot, anak kucing. Kau tahu kan aku ini pengacara terbaik di biro hukum ini.” kata Diego sambil menyeringai lebar.

“Tentu saja. Kau kan tidak punya saingan di sini.” kata Mia sambil mendengus jengkel.

“Ha! Karena itulah aku yang terbaik di sini.” Diego meminum kopinya (entah kopi nomor berapa).

“Aku heran kenapa aku belum melihat ada Biro Hukum Armando.” sindir Mia.

“Aku bekerja untuk Mr. Grossberg, anak kucing. Aku tidak pernah berpikir untuk memiliki Biro Hukum sendiri.”

“Kenapa bisa begitu?” tanya Mia penasaran.

“Balas budi mungkin.” Diego menarik sebuah kursi agar ia bisa duduk di depan meja Mia. Dia meneguk kopinya lagi. “Kau mau dengar?”

“Hibur aku.” Mia meletakkan cangkir kopinya.

“Aku pertama kali bertemu Grossberg saat aku bermur 16 tahun,” Diego memulai ceritanya, “saat itu aku masih duduk di bangku SMA. Masih sangat muda untuk memerlukan pengacara tindak pidana bukan?”

“Apa yang kau lakukan?” tanya Mia penasaran.

“Temanku ada yang terbunuh. Dia mati ditikam saat pulang sekolah. Tebak siapa tersangkanya. Itu aku.” Diego menceritakan hal itu dengan santai seolah kenyataan bahwa dia pernah dituduh membunuh temannya itu adalah sesuatu yang biasa.

Mia tidak memotong pria itu. Dia mencodongkan badannya ke depan agar dapat mendengar kisah Diego secara lebih jelas.

“Pria tua itu yang menjadi pengacaraku saat itu. Pertama aku tidak tahan melihat sifatnya yang slow itu. Tapi setelah melihat kegigihannya membelaku di pengadilan, aku jadi menghormatinya. Setelah itu aku putuskan untuk menjadi pengacara.”

“Oh.” Mia tidak tahu harus berkata apa.

“Aku belajar hukum darinya bahkan sebelum aku lulus SMA. Aku sering bermain ke sini dan dia sendiri sering mengunjungi rumahku. Ruang kantorku ini sudah disediakan untukku sebelum aku lulus dari fakultas hukum. Karena itulah, aku akan selalu mengikuti orang tua itu.” Diego mengakhiri kisahnya. “Kami berdua diikat dengan tali nasib bernama balas budi.”

Diego meneguk kopinya sekali lagi. Mia baru tahu ternyata Diego memiliki masa lalu seperti itu. Siapa sangka pria seperti Diego pernah dituduh sebagai pembunuh. Dia memang sok, arogan, dan suka menggoda orang. Tapi dia tidak pernah terlihat sebagai tipe pembunuh. Malah lebih ke tepi orang yang akan dibunuh.

“Kalau kau sendiri, anak kucing? Bagaimana kau bisa berakhir menjadi pengacara?” tanya Diego.

Mia tidak pernah menyangka akan ditanya seperti ini. Jujur sekali dia belum siap menceritakan alasannya menjadi pengacara pada siapa pun. Dia tidak menceritakannya. Namun dia tidak bisa tidak menceritakannya pada Diego. Dia merasa tidak adil bagi Diego. Pria itu sudah menceritakan kisahnya dan sudah membiarkan Mia belajar darinya.

“Kau tahu tempat seperti apa desa Kurain itu?” tanya Mia.

“Yang aku dengar di sana adalah desa tempat para cenayang. Mereka bisa memanggil roh. Apa aku benar, anak kucing?”

“Aku berasal dari klan Fey, klan cenayang terkuat di Kurain. Ibuku adalah guru besar di sana.”

“Ha! Spiritual dan hukum tidak bisa dihubungkan dalam satu kalimat, anak kucing.” kalimat itu dapat diterjemahkan sebagai, “Kenapa cenayang sepertimu bisa jadi pengacara?”

Mia menghela nafasnya, “Kau tahu peristiwa DL-6?”

“DL-6?” Diego tidak mengerti apa maksud Mia.

“10 tahun lalu terjadi kasus pembunuhan di pengadilan. Korbannya adalah pengacara terkenal, Gregory Edgeworth.” terang Mia.

“Aku ingat sekarang! Pembunuhan di lift pengadilan itu bukan? Saat itu pengadilan diguncangkan oleh gempa bumi. Hal itu membuat lift berhenti selama berjam-jam.”

“Saat itu Edgeworth dan anaknya serta seorang petugas pengadilan terjebak di dalam lift,” lanjut Mia, “mereka terjebak selama berjam-jam. Oksigen makin menipis. Petugas pengadilan itu bertengkar dengan Edgeworth karena panik. Tiba-tiba saja pistol petugas itu jatuh dan meledak. Polisi kebingungan karena tidak jelas siapa yang menembakkan pistol itu ke arah Edgeworth.”

“Karena itulah polisi menggunakan bantuan cenayang secara diam-diam untuk memanggil arwah Edgeworth,” Diego diam sebentar, “Misty Fey.”

“Dia ibuku.”

Mereka diam sebentar. Diego bahkan tidak meminum kopinya. Sepertinya dia ingin mencoba meresapi kegundahan yang dirasakan Mia saat itu.

“Ibuku sukses memanggil Edgeworth,” lanjut Mia, “pria itu memberitahu bahwa petugas pengadilan itu, Yanni Yogi, yang membunuhnya. Tapi Yogi dinyatakan tidak bersalah di pengadilan. Yang membuat keadaan makin buruk adalah ada seseorang yang membocorkan informasi bahwa polisi memakai cenayang kepada media massa. Koran-koran lalu muncul dengan berbagai artikel yang menghujat polisi dan ibuku. Mereka memanggil ibuku cenayang palsu. Hal ini membuat ibuku depresi dan kehilangan muka, bahkan di desa. Setelah itu dia menghilang tanpa jejak.”

“Jadi kau menjadi pengacara untuk menemukan ibumu?” tanya Diego.

“Dan juga untuk menemukan orang yang telah membocorkan hal itu pada media.” jawab Mia.

Mereka diam lagi. Satu-satunya suara yang didengar hanyalah suara jarum jam yang berdetak pelan.

“Apa kau tahu kalau Hammond yang menjadi pengacara Yogi saat itu?” tanya Diego.

“Aku tahu,” jawab Mia, “karena itulah aku masuk ke Biro Hukum Grossberg. Aku ingin mengorek informasi sebanyak mungkin.”

Diego memperhatikan wajah Mia. Wajahnya kini tampak dipenuhi berbagai emosi. Dia tampak sedih, tampak marah. Diego meminum kopinya kembali lalu tersenyum padanya.

“Selesaikan tugasmu. Kertas-kertas itu tidak akan terisi sendiri.” katanya sambil berjalan ke mejanya.

Mia terkejut. Benarkah tadi Diego Armando tersenyum dengan lembut kepadanya?

***


ugya! lanjutannya besok
Back to top Go down
View user profile http://reinarandwulf.multiply.com
mikumo-hime
Prosecutor
Prosecutor


Female Number of posts : 373
Age : 25
Location : ShinRa Company, 70th floor
Reputasi : 0
Registration date : 2008-09-07

PostSubject: Re: Revival [Diego/godot X Mia]   Sat Nov 22, 2008 2:17 pm

gyaaaaaaaaaaaaa~

saya ga tau godoXmia itu semanis iniii...(biarpun pahit2 juga ujung2nya) heemm...bagaikan rasa kopi....

(lebainess mode: on. tanda orang stres kebanyakan minum kopi ngerjain nanowrimo)
Back to top Go down
View user profile http://natsumi726.deviantart.com
Reina von Gant
Detective
Detective


Female Number of posts : 159
Age : 25
Location : Behind you....~
Reputasi : 0
Registration date : 2008-09-16

PostSubject: Re: Revival [Diego/godot X Mia]   Sat Nov 22, 2008 9:53 pm

Mereka memang manis dan pahit. Bagaikan kopi. Btw, kenapa di ff ini gw bisa ngoceh banyak tentang filosofi kopi padahal gw g minum kopi??

Godo!! Kau meracuni otakku!
Back to top Go down
View user profile http://reinarandwulf.multiply.com
mikumo-hime
Prosecutor
Prosecutor


Female Number of posts : 373
Age : 25
Location : ShinRa Company, 70th floor
Reputasi : 0
Registration date : 2008-09-07

PostSubject: Re: Revival [Diego/godot X Mia]   Sun Nov 23, 2008 8:14 am

*lagu godot mengalun*

kalo gobo itu kopi yang pahit, maka mia bagaikan gula yang manis Razz

(betul! godot meracuni otak sayaaa~ padahal jarang minum kopi...ke starbucks aja pesennya raspberry blackcurrant tea)
Back to top Go down
View user profile http://natsumi726.deviantart.com
Reina von Gant
Detective
Detective


Female Number of posts : 159
Age : 25
Location : Behind you....~
Reputasi : 0
Registration date : 2008-09-16

PostSubject: Re: Revival [Diego/godot X Mia]   Sun Nov 23, 2008 10:06 pm

godot... godot... jadi pingin lihat drama "waiting for godot'
Back to top Go down
View user profile http://reinarandwulf.multiply.com
mikumo-hime
Prosecutor
Prosecutor


Female Number of posts : 373
Age : 25
Location : ShinRa Company, 70th floor
Reputasi : 0
Registration date : 2008-09-07

PostSubject: Re: Revival [Diego/godot X Mia]   Mon Nov 24, 2008 9:29 pm

apalagi saya kemaren abis begadang semaleman sambil minum kopi gapake gula....sambil mendengarkan lagu godot! dah gitu ujan lagi... huaduh...mantap2 gimana gitu rasanya >.<
Back to top Go down
View user profile http://natsumi726.deviantart.com
Reina von Gant
Detective
Detective


Female Number of posts : 159
Age : 25
Location : Behind you....~
Reputasi : 0
Registration date : 2008-09-16

PostSubject: Re: Revival [Diego/godot X Mia]   Mon Dec 08, 2008 3:42 am

Jah, udah lama ga gw update...

“Mr. Armando, bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya seorang suster padaku.

“Lelah. Kapan aku bisa dapat kopiku?” aku bertanya balik.

Aku mendengar suster itu tertawa sambil berkata kalau aku belum boleh minum kopi atau sejenisnya. Aku masih dalam masa pemulihan jadi harus menjaga makanan yang masuk ke badanku. Aku baru saja menyelesaikan latihan berjalan. Setiap hari kegiatanku diisi dengan melewati berbagai macam terapi. Mereka terkejut melihat perkembanganku yang begitu pesat. Ha! Mereka belum tahu siapa Diego Armando.

“Suster, bagaimana kabar alat yang mereka buat untukku?” tanyaku penasaran.

“Oh, alat yang bisa membantumu melihat? Mereka sedang mengerjakannya.” jawab suster.

“Aku bosan melihat kegelapan seperti ini. Aku ingin segera melihat wajah suster yang merawatku.”

“Jangan terlalu banyak berharap, Mr. Armando. Aku tidak secantik pikiranmu.” suster itu tertawa bersamaku.

Mungkin karena telah lama melihat kegelapan, pendengaranku menjadi sedikit lebih sensitif dari biasanya. Aku bisa mendengar suara langkah kaki dari arah pintu berjalan ke arahku. Siapa ini? Aku sudah hafal suara langkah kaki Pak Dokter yang baik itu. Tapi langkah kaki ini berbeda. Langkahnya pendek-pendek. Bisa kutebak kaki orang ini tidak panjang. Hmmm… apakah orang ini adalah ….

“Diego, ini aku Grossberg.”

Ha! Sesuai dengan dugaanku. Sepertinya ketajaman otakku tidak menumpul setelah diistirahatkan selama 5 tahun. Setelah itu aku mendengar suster itu undur diri agar aku bisa berbincang-bincang dengan Grossberg.

“Halo Pak Tua. Senang bisa mendengar suaramu lagi.” kataku.

“Ahem… kau sedikit berubah. Dulu saat aku lebih muda, aku ingat kalau …”

“Rambutku putih ya, eh? Sepertinya aku duluan yang memiliki rambut putih dari padamu.” aku mencoba untuk berguyon sedikit. “Bagaimana kabar kantor, Grossberg?”

“Baik-baik saja. Tapi belakangan ini Biro Hukum kita mendapat sedikit kesulitan.” suara terdengar lesu. Aku bisa membayangkan dia menunduk sambil menatapku.

“Kau merasa kesulitan karena kehilangan pengacara terbaikmu selama 5 tahun?” tanyaku sambil tertawa. “Setelah keluar dari sini, aku pasti akan kembali bekerja padamu.”

“Terimakasih.”

Kami diam sebentar.

“Bagaimana kabar Mia?” tanyaku lagi. Sudah lama aku ingin menanyakan kabar anak kucingku itu.

Grossberg tidak langsung menjawab. Ada jeda beberapa detik sebelum dia membuka mulut, “Baik.”

Ada yang aneh. Suaranya tidak terdengar meyakinkan. “Bagaimana karirnya sekarang? Apa dia masih takut menghadapi kejamnya pengadilan?”

“Dia membuka Biro Hukum sendiri. Dia bahkan punya mitra junior yang menjadi muridnya.”

“Wow, anak kucing kita sudah jadi kucing betina.” pujiku.

Mia, sudah sejauh mana kau berkembang? Bisa kutebak kalau karirmu sudah semakin menanjak. Aku tidak bisa berhenti tersenyum jika membayangkan kau punya murid. Muridmu pasti orang paling beruntung karena bisa mempunyai mentor secantik kau. Mia, Mia, aku turut merasa senang. Padahal terakhir kali kita bertemu, kau adalah pengacara pemula yang penakut. Kau tidak mau kembali ke pengadilan setelah sidang pertamamu berjalan kacau dan di luar kendali. Kasihan sekali kau. Padahal itu sidang pertamamu. Tapi semuanya kacau gara-gara gadis itu.

Dahlia Hawthrone.

Gadis terkutuk! Dia tak hanya menghancurkan karir Mia, dia juga telah menghancurkan hidupku! Gara-gara dia, aku harus koma selama 5 tahun. Gara-gara dia, aku jadi seperti ini! Gara-gara dia, aku jadi buta! Aku pasti akan membalasnya jika aku keluar dari sini.

“Ahem… aku lupa memberitahumu,” kata Grossberg tiba-tiba, “gadis itu akan dihukum mati sebentar lagi.”

“Siapa?” tanyaku.

“Siapa namanya? Ah… Dahlia. Dahlia Hawthrone.” jawab Grossberg.

Oh! Dia sudah menerima hukuman yang setimpal dengannya. Baguslah. Aku turut senang. Namun aku tetap merasakan kekecewaan karenanya. Aku jadi tidak bisa membalaskan dendamku dengan tanganku sendiri. Ironis sekali.

“Atas tuduhan apa?” tanyaku penasaran.

“Pembunuhan atas mantan pacarnya.” jawab Grossberg. “Dia sangat jahat, Diego. Dia berusaha menjadikan pacarnya sebagai tersangka.”

Jangan tertipu dengan wajah manis, itu prinsipku. Dahlia Hawthrone memang malaikat berhati iblis.

“Mia yang membuktikan dia pembunuhnya.” lanjut Grossberg.

“Mia? Sudah kuduga dia akan menjebloskan gadis itu ke penjara suatu hari.”

“Itu kasus pertamanya setelah sidang Tery Fawles,” Grossberg melanjutkan kisahnya, “8 bulan setelah kau koma. Dia membela seseorang bernama Phoenix Wright. Dia dituduh membunuh Doug Swallow. Sebelum terjadi pembunuhan, Wright bertengkar dengan Swallow. Saksi dalam kejadian itu adalah Hawthrone.

“Tentu saja dia bersaksi bahwa dia melihat pacarnya membunuh Swallow. Siapa sangka kalau sebenarnya dialah yang membunuh Swallow. Anak muda zaman sekarang. Mereka tidak punya hati.”

“Sepertinya dia saja yang memiliki hati jahat. Lanjutkan.” kataku.

“Mia hebat sekali saat itu. Dia tidak hanya berhasil membuktikan kliennya bersalah, dia juag berhasil membuktikan kalau Hawthrone yang meracunimu.”

“Keberatan jika kau membagi detail peristiwa itu padaku?” aku makin penasaran.

“Dia membawa racun di dalam kalungnya. Apa kau ingat seperti apa kalung yang ia pakai, Diego?”

Aku mencoba untuk mengingat. Samar-samar aku masih ingat kalungnya itu. Aku bahkan memuji kalungnya. Kalungnya cantik, berbentuk hati. Di tengah kalungnya itu terdapat sesuatu seperti botol kecil dari kaca. Aku tidak pernah menyangka kalung secantik itu adalah alat pembunuhan.

“Setelah dia meracunimu, dia pergi dari cafetaria.” lanjut Grossberg. “Ia lalu menuju perpustakaan pengadilan. Di sanalah ia bertemu dengan Wright. Dia memberikan kalung itu pada Wright dengan dalih kalau mereka ditakdirkan untuk bersama. Dengan hilangnya kalung itu, Dahlia tidak bisa dibuktikan telah membunuhmu.”

“Biar kutebak,” sambungku, “pemuda tidak beruntung ini masih menyimpan kalung itu dan menunjukkannya pada Mia.”

“Ahem… tajam seperti bisa. Dia memang melakukannya.” tanggap Grossberg. “Pemuda ini kini menjadi pengacara di Biro Hukum Fey.”

‘Seperti apa orangnya?”

“Dia pengacara yang hebat. Dia memenangkan banyak kasus. Dia bahkan berhasil mengalahkan Jaksa Miles Edgeworth, Jaksa Manfred von Karma, dan Jaksa Franziska von Karma.”

“Siapa itu Franziska?”

“Anak Manfred von Karma. Kau tahu dia kan?”

“Jaksa tua angkuh yang selalu menang itu bukan? Kudengar dia adalah mentor dari Edgeworth kecil si anak anjing itu.”

“Dia sekarang ditahan atas tuduhan membunuh Gregory Edgeworth dalam peristiwa DL-6.”

Aku terkejut, “Dia pembunuh?”

“Mungkin aku juga perlu memberitahumu kalau Robert telah meninggal karena dibunuh.” lanjut Grossberg.

Ha! Banyak sekali yang terjadi saat aku tidur. Aku merasa kesal sekali karena tidak dapat menyaksikannya secara langsung. Aku memang tidak terlalu suka dengan Hammond selama bekerja di Biro Hukum Grossberg, namun aku tidak pernah menyangka dia akan dibunuh orang.

“Dia dibunuh oleh Yanni Yogi. Dia klien Robert pada kasus DL-6.” kata Grossberg.

“Kenapa dia membunuhnya? Dendam pribadi?”

“Betul sekali, Diego. Dia dendam pada Robert. Dia berhasil dibuktikan tidak bersalah pada kasus itu karena Robert bilang kesehatan mentalnya terganggu. Rupanya dia mendapat banyak tekanan karenanya. Dia disangka benar-benar cacat mental. Robert secara tidak langsung telah menghancurkan hidupnya.”

“Ia lalu membunuh Hammond.”

“Atas petunjuk von Karma.” sambung Grossberg. “Dia lalu menjadikan Jaksa Edgeworth sebagai tersangka pembunuhan Robert dengan memanggilnya ke TKP pada saat terjadinya pembunuhan. Setelah itu dia yang menjadi jaksa dalam sidang.”

“Dia memang orang yang kejam.”

“Wright yang membela Edgeworth saat itu. Dia berhasil mengungkap kebenaran. Sama seperti Mia.”

Aku tidak bisa menahan senyumku. Mia, kau punya murid yang pintar. Aku turut senang mendengarnya. Tampaknya kau telah sukses menurunkan ilmumu padanya.

“Mia pasti bangga melihatnya dari sana.” gumam Grossberg.

‘Dari sana’? Apa maksudnya? Saat aku baru mau menanyakan hal itu, aku mendengar Grossberg berdiri dari kursinya.

“Aku harus kembali sekarang. Semoga cepat sembuh.” katanya.

“Hei Grossberg! Suruh Mia ke sini kalau dia ada waktu. Banyak hal yang ingin kutanyakan padanya.” kataku.

Grossberg diam sebentar, “Semoga harimu menyenangkan, Deigo.”

Grossberg tidak menjawabku. Aku merasa ada yang aneh. Dia tidak pernah bersikap seperti ini padaku. Aku yakin ada sesuatu yang ia sembunyikan. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Mia.

Perasaanku tidak enak.

***
Back to top Go down
View user profile http://reinarandwulf.multiply.com
Reina von Gant
Detective
Detective


Female Number of posts : 159
Age : 25
Location : Behind you....~
Reputasi : 0
Registration date : 2008-09-16

PostSubject: Re: Revival [Diego/godot X Mia]   Mon Dec 08, 2008 3:46 am

Diego memandang partnernya dari balik tumpukan dokumen yang tengah ia baca. Mia tampak letih lesu dan tidak bersemangat. Kepedihannya setelah sidang pertamanya rupanya belum lenyap. Sudah hampir 5 hari berlalu setelah sidang itu dan Mia belum bisa lepas dari rasa bersalahnya. Sudah hampir 5 hari pula Diego bersabar melihat Mia seperti itu. Kali ini kesabarannya telah habis.

Dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Mia. Gadis itu rupanya tidak menyadari kedatangan Diego. Dia segera menjatuhkan buku hukum yang sedang ia baca. Diego menyerahkan kopi kepada Mia tanpa berbicara apa-apa. Mia menerima kopi itu tanpa banyak tanya. Mereka diam untuk beberapa saat. Yang terdengar hanyalah suara kursi yang bergesekan dengan lantai saat Diego menarik kursi ke meja Mia.

“Minumlah, anak kucing.” pinta Diego. Dia sendiri meminum kopinya.

Mia menuruti Diego dan meminum kopinya dengan patuh. Pahit. Rasa pahit langsung memenuhi mulutnya saat kopi itu masuk ke mulutnya. Belum pernah Mia meminum kopi sepahit dan sekental ini. Rasanya benar-benar memuakkan! Mia cepat-cepat meneguk kopinya dengan cepat. Dia lalu melempar pandangan bingung pada Diego.

“Diego Blend #107. Racikanku yang paling pahit.” komentar Diego tanpa emosi.

Mia baru mau membuka suara untuk memprotes Diego. Tapi niatnya keburu dipotong oleh suara Diego.

“Anak kucing tidak boleh dimanjakan terus oleh susu yang manis. Dia harus juga dikenalkan dengan pahitnya kopi.” lanjut Diego.

“Apa maksudmu Mr. Armando?” tanya Mia.

“Anak kucing, pengalaman yang baru kau alami seperti kopi itu. Pahit. Kau merasa tidak enak saat pertama kali mencicipinya. Kau ingin segera membuangnya.” Diego meneguk kopinya. “Namun, jika kau mau bersabar dan tidak membuang kopi itu dan mau terus mencicipinya sampai tetesan terakhir, kau akan mengerti kenikmatan di balik kepahitan.”

Mia menunduk, tidak berani beradu tatap dengan mentornya itu. Dia mencoba mencerna metaphor yang diberi Diego saat itu. Bisakah dia mencari kenikmatan dari kepahitan yang baru ia alami? Adakah yang bagus dari menyaksikan klienmu bunuh diri di tengah-tengah sidang? Apakah kepuasan yang bisa didapat Mia dengan melihat seorang pembunuh berhasil kabur dari jeratan hukum? Apa? Apa?!

Mia tanpa sadar menitikkan air matanya. Sidang pertamanya adalah sidang terburuk yang pernah ada. Dia begitu shock. Hal ini membuatnya trauma. Dia tidak ingin menginjakkan kakinya ke dalam ruang sidang lagi. Dia takut membela orang. Dia takut hal serupa akan terjadi lagi.

“Klienmu, Terry Fawles, kabur saat dia dipindahkan dari penjaranya,” kata Diego, “dia mencuri mobil lalu menelpon korban, Valerie Hawthrone. Mereka bertemu di Dusky Bridge. Ia lalu membunuh korban dengan menikamnya dari belakang. Setelah itu dia masukkan tubuh korban di dalam bagasi dan kabur. Dia ditangkap oleh polisi tak jauh dari sana. Ada saksi yang menyaksikan pembunuhan itu. Kasus ini benar-benar kasus yang sempurna. Tidak mungkin Fawles lolos dari jeratan hukum.”

Mia makin menangis. Dia berharap Diego segera menghentikan penjelasan tentang kasus Fawles itu. Tindakannya itu hanya membuat hatinya makin merasa pedih. Dia menjadi teringat suasana sidang saat itu. Ia masih bisa merasakan ketegangan yang muncul. Dia ingat wajah Fawles saat ia meminum racun untuk membunuh dirinya sendiri. Dia ingat darah mengalir dari sudut mulutnya. Dia ingat kekacauan yang timbul setelah itu.

Dia ingat wajah Dahlia Hawthrone yang tersenyum lebar menyaksikan peristiwa naas itu.

“Kalau saja kau tidak muncul, mungkin kebenaran tidak akan terungkap Mia.” lanjut Diego. Dia memandang Mia dengan serius. “Siapa yang berhasil menyeret Hawthrone ke podium saksi? Kau. Siapa yang berhasil menemukan kontradiksi di kesaksian gadis itu? Kau. Siapa yang berhasil mengkaitkan peristiwa pembunuhan ini dengan penculikan? Kamu! Kamu, anak kucing! Kau telah berhasil mengungkap kebenaran. Itu yang terpenting.”

“Tapi Fawles … dia bunuh diri. Dia meninggal, Mr. Armando!” seru Mia. Air matanya makin mengalir saat mengingat detil kematian Tery Fawles.

“Di dunia ini hanya 2 tipe manusia,” Diego meminum kopinya, “mereka yang mengendalikan orang dan mereka yang dikendalikan orang.”

“Apa maksudmu?”

“Serdadu adalah prajurit yang ditempatkan di barisan depan saat perang. Mereka maju sesuai dengan perintah jendralnya. Mereka mati untuk melindungi jendralnya. Itulah Fawles.”

“Jadi menurutmu itu hal yang wajar? Kau pikir wajar baginya untuk mati menggantikan gadis itu begitu saja?!” Mia memukul mejanya.

Diego memukul meja Mia dengan mugnya (herannya mug itu tidak pecah), “Pikiran Fawles telah dikendalikan oleh Hawthrone! Jika dia mati, itu karena kebodohan dia sendiri! Terima kenyataan itu Mia!”

“Tapi … tapi … aku tidak bisa menerimanya begitu saja! Aku pengacara Mr.Armando! Aku percaya padanya! Aku tidak ingin melihatnya berakhir seperti itu!”

Diego terdiam. Dia hanya memandang mata coklat Mia yang basah oleh air mata. “Kau pengacaranya?” katanya beberapa detik kemudian.

“Iya! Dia klienku!” jawab Mia.

“Kau percaya padanya?” tanya Diego lagi.

“Tentu saja.”

“Apa dia percaya padamu?”

“Itu …” Mia ragu. Dia tidak tahu apa Fawles mempercayai pengacara sepertinya.

“Ha! Kalau aku jadi Fawles, aku pasti tidak akan percaya padamu.” kata Diego.

“Apa … apa maksudmu?”

“Pengacara adalah mereka yang bisa tersenyum di saat paling susah sekali pun. Coba lihat dirimu! Siapa yang akan percaya dengan pengacara sepertimu?!”

Perkataan Diego membuat Mia menjadi sadar. Ya, dia adalah pengacara. Dia ingin mempercayai kliennya. Tapi apakah kliennya akan mempercayainya? Apakah mereka akan mempercayai pengacara dengan tampang kusut dan galau sepertinya? Apakah dia bisa membela orang dengan keadaan seperti ini?

“Kau sedih karena gagal membela klienmu. Itu wajar. Kau tidak berkembang karena gagal membela klienmu…” Diego memukul meja dengan mugnya sekali lagi, “ITU TIDAK WAJAR!!”

Air mata Mia makin mengalir. Dia memang bodoh. Dia tidak pernah menyadari hal ini. Dia begitu dibutakan oleh rasa sedihnya sampai tidak memikirkan hal itu. Dia sudah mengecewakan Fawles. Dia sudah mengecewakan Grossberg. Dia sudah mengecewakan Diego. Apa dia mau mengecewakan lebih banyak orang lagi?

“Aku harus bagaimana?” tanya Mia.

“Kau kesal, anak kucing?” Diego balas bertanya.

“Tentu saja.”

“Apa kau kesal melihat gadis itu bebas sedangkan Fawles mati?”

“Ya!”

“Kalau begitu,” Diego meminum kopinya lagi, “ayo seret dia ke pengadilan.”

Mia tidak percaya dengan apa yang ia dengar, “Seret ke pengadilan?”

“Aku sudah mulai mencari informasi seputar kasus penculikan palsu. Memang masih belum cukup tapi masih lebih baik dari pada tidak.” lanjut Diego.

Dia sudah mengadakan penyelidikan? Sejak kapan? Mia tidak pernah menyadari hal itu. Dia tidak pernah menyangka bahwa pria berkulit gelap yang sering menggodanya ini ternyata mau membantunya. Tak hanya itu, dia mau menghiburnya di saat dia sedih seperti ini. Meski caranya menghiburnya agak aneh (Diego memang agak aneh), Mia merasa lebih baik sekarang.

“Terimakasih Mr. Armando.” kata Mia sambil menangis bahagia.

“Seka air matamu, anak kucing,” Diego berjalan kembali ke mejanya, “saat di mana pengacara menangis adalah saat di mana semuanya telah berakhir.”

Mia segera mengeluarkan sapu tangannya dan menyeka air matanya. Dia tidak boleh cengeng seperti ini. Masih ada kebenaran yang menunggu untuk dikuak. Masih ada orang yang tertindas dan tidak bisa dibela. Karena itulah, dia harus berhenti menangis. Semuanya belum berakhir.

***
Back to top Go down
View user profile http://reinarandwulf.multiply.com
Satsuki Yuuhi Ramius
Victim
Victim


Female Number of posts : 24
Age : 24
Reputasi : 1
Registration date : 2009-06-25

PostSubject: Re: Revival [Diego/godot X Mia]   Sat Jun 27, 2009 2:44 pm

Anuu

Ini FanFic-nya masih ada lanjutan-nya atau sudah selesai?
Back to top Go down
View user profile http://nabila-r.deviantart.com
Sponsored content




PostSubject: Re: Revival [Diego/godot X Mia]   Today at 5:21 am

Back to top Go down
 
Revival [Diego/godot X Mia]
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Revival of Memories, by Brian E. Lowe (Schabbs) - coding by MCS
» Game Empire San Diego GT 1500pts
» Chaotic revival not so impossible?
» 2 Carpacks Ford Capri Turbo - DRM-Revival Mod
» Revival of Crusade

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
The First Indonesian Phoenix Wright Forum :: Berry Big Circus :: Deauxnim's Spot-
Jump to: